Rabu, 20 April 2011

SULUK WUJIL (Pesan Kanjeng Sunan Bonang,terjemahan Bahasa Indonesia)

1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Ssampai rahsia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3 “
Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”

11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”
12
Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia
13
Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini: Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
14
Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat
15
Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
16
Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?
Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini
17
Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?
Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan
18
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia
19
Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
Sia-sia semata
Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggalah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
20
Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpukan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
21
Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini
22
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
23
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar
24
Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan
35
Diam dalam tafakur, Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat
36
Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata
38
Renungi pula, Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham
39
Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni
40
Kemauan itu, Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan.

Perdebatan antara Hudhud dan Burung-Burung

Kemudian segala burung, satu demi satu, menyatakan alasan-alasan yang tak bijak. Kalau tak kuulangi semua itu, maafkan aku, pembaca, sebab akan kelewat panjang. Tetapi bagaimana dapat burung-burung demikian berharap akan mengebat Simurgh pada cakar mereka? Maka Hudhud pun melanjutkan bicaranya: "Ia yang memilih Simurgh bagi hidupnya sendiri harus melawan dirinya sendiri dengan berani. Jika urat tembolokmu tak dapat mencerna sebutir gandum pun, bagaimana kau akan ikut serta dalam pesta sang Simurgh? Bila kau ragu-ragu dengan seteguk anggur, bagaimana kau akan minum sepiala besar, o bayangkara raja? Jika kau tak memiliki tenaga sebutir zarrah, bagaimana kau akan menemukan khazanah surya? Jika kau dapat terbenam dalam setetes air, bagaimana kau akan dapat meninggalkan dasar laut ke puncak langit? Ini bukan wangian biasa; dan bukan pula tugas bagi dia yang tak bermuka bersih."
 

Setelah burung-burung merenungkan pembicaraan itu, mereka pun berkata lagi pada Hudhud, "Telah kaupikul sendiri tugas menunjukkan jalan pada kami, kau yang terbaik dan terkuat di antara burung-burung. Tetapi kami lemah, tanpa bulu halus maupun lar, sehingga bagaimana kami akan dapat pada akhirnya sampai ke hadapan Simurgh Yang Mulia? Kalau kami sampai juga ke sana, tentulah suatu keajaiban. Ceritakan pada kami tentang Wujud yang menakjubkan itu dengan suatu tamsil, atau, karena sebuta ini keadaan kami, kami tak akan mengerti samasekali rahasia ini. Jika ada suatu pertalian antara Wujud ini dengan diri kami, tentulah akan jauh lebih mudah terperikan bagi kami. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, ia mungkin dapat dibandingkan dengan Sulaiman, dan kami dengan semut-semut yang meminta-minta. Bagaimana dapat serangga di dasar sumur memanjat naik ke tempat Simurgh yang besar? Akankah kebangsawanan teruntuk bagi pengemis?"

Jawab Hudhud
Hudhud berkata, "O burung-burung yang tak bercita-cita! Bagaimana cinta akan bersemi indah di hati yang tak punya kepekaan rasa? Mengajukan pertanyaan seperti ini, yang seakan memaafkan kalian, tak akan ada gunanya. Siapa yang bercinta berangkat dengan mata terbuka ke arah tujuannya seraya membuat hidupnya sebagai barang permainan. Ketika Simurgh mengejawantahkan dirinya di luar tabir, gemilang bagai matahari, ia menimbulkan ribuan bayang-bayang di bumi. Ketika ia melemparkan pandang pada bayangbayang ini, tampaklah di sana burung-burung begitu banyaknya. Begitulah beragam jenis burung yang terlihat di dunia ini hanyalah bayang-bayang Simurgh. Maka ketahuilah, o burung-burung yang bodoh, bahwa setelah kalian mengerti akan ini, kalian pun akan mengerti pula dengan sungguh-sungguh pertalian kalian dengan Simurgh. Renungkan rahasia ini, tetapi jangan singkapkan. Ia yang memperoleh pengetahuan ini tenggelam dalam kemaharayaan Simurgh, sungguhpun ia harus tak menganggap bahwa dirinya Tuhan dalam hal itu. Bila kalian menjadi seperti yang kukatakan itu, tidaklah akan berarti bahwa kalian Tuhan, tetapi kalian akan terendam dalam Tuhan. Adakah makhluk yang terendam demikian menjadi berubah wujudnya? Bila kalian mengetahui bayang-bayang siapa kalian ini, maka hidup atau mati tak akan menjadi soal bagi kalian. Seandainya Simurgh tak hendak mengejawantahkan dirinya, tentulah ia tak akan mengembangkan bayangbayangnya; seandainya ia ingin tinggal tersembunyi, tentulah bayang-bayangnya tak akan tampak di dunia ini. Segala yang ditimbulkan oleh bayang-bayangnya menjadi tampak di mata. Jika jiwa kalian tak serasi untuk melihat Simurgh, tak akan pula hati kalian menjadi cermin yang terang, yang serasi untuk memantulkan bayang-bayangnya. Benar bahwa tiada mata yang mampu merenungi dan mengagumi keindahannya, tiada pula itu bisa dimengerti dengan pikiran: tiada yang dapat merasai Simurgh seperti ia merasai keindahan dunia ini. Tetapi dengan kemurahannya yang berlimpahan ia telah memberi kita sebuah cermin yang memantulkan bayangannya sendiri, dan cermin ini ialah hati. Tinjaulah ke dalam hati kalian, dan di sana kalian akan melihat bayangannya."

Raja yang Mempesona
Adalah sekali seorang raja yang indah dan mempesona tiada bertara. Fajar ialah sekilat dari wajahnya, Malaikat Jibril pancaran wanginya, dan Kerajaan Keindahan ialah Quran penyimpan rahasia-rahasianya. Seluruh dunia bergema dengan kemasyhurannya, dan kasihnya terasa oleh setiap makhluk. Bila ia berkendara di kota, diselubunginya wajahnya dengan cadar merah tua; tetapi mereka yang hanya melihat cadarnya saja akan kebingungan, dan mereka yang mengucapkan namanya segera jadi kelu. Ribuan sudah yang mati karena mencintainya; yang lain-lain mengorbankan hidupnya karena yakin lebih baik segera mati ketimbang menempuh seratus kehidupan yang panjang tapi terpisah daripadanya. Sungguh mengagumkan! Mereka tak tahan berlama-lama di dekatnya, tidak pula mereka dapat hidup tanpa dia. Tetapi, bagi mereka yang tahan, ia akan memperlihatkan dirinya; mereka yang tak tahan harus puas mendengar suaranya saja. Akibatnya, raja itu memerintahkan agar dibuat sebuah cermin sehingga wajahnya bisa dilihat secara tak langsung. Cermin itu ditaruh di istananya, dan ia pun menghadap dan memandang ke dalam cermin itu, sehingga semua dapat melihat bayangannya. Begitulah pula halnya dengan kalian. Jika kalian mencintai sahabat kalian, ketahuilah bahwa hati kalian ialah cennin, pandanglah dalam cermin itu raja kalian di persemayamannya yang luhur. Segala yang tampak tak lain dari bayang-bayang Simurgh yang penuh rahasia itu. Jika ia telah menyingkapkan keindahannya pada kalian, maka kalian pun akan mengenal keindahan itu kembali pada bayang-bayangnya. Apakah ada tiga puluh burung "Simurgh" atau empat puluh, kalian hanya akan melihat bayang-bayangnya. Simurgh tak terpisah dari bayang-bayangnya; memandang yang sebaliknya tidaklah benar; yang satu dan yang lain bersama-sama ada. Carilah persatuan kembali; atau lebih jelas, tinggalkan bayang-bayang itu, maka kalian akan menemukan Kerahasiaan itu. Berkat nasib baik, kalian akan melihat sang Surya dalam bayang-bayangnya; tetapi bila kalian tersesat dalam bayang-bayang itu, bagaimana kalian akan mencapai persatuan dengan Simurgh?

Mahmud dan Ayaz
Ayaz kena ganggu pengaruh jahat, dan harus meninggalkan istana Sultan Mahmud. Dalam putus
asa ia pun jadi kehilangan semangat dan berbaring di ranjangnya, menangis. Ketika Mahmud
mendengar ini, berkatalah ia pada salah seorang abdinya, "Pergilah menemui Ayaz dan
sampaikan kata-kataku ini, 'Aku tahu bahwa kau sedih, tetapi aku juga dalam keadaan demikian.
Meskipun badanku jauh darimu, namun jiwaku dekat. O kau yang mencintaiku, aku tak
meninggalkanmu sejenak pun. Pengaruh jahat sungguh telah merugikan dengan mengganggu
orang yang begitu menawan'." Tambahnya lagi pada abdinya, "Pergilah segera, pergilah bagai
api, pergilah bagai air yang menyerbu, pergilah bagai kilat mendahului guntur! "
Si abdi pun berangkatlah bagai angin dan sebentar pun sampai ke tempat Ayaz. Tetapi
didapatinya Sultan telah ada di sana, duduk di muka hambanya. Dan gemetar si abdi pun berkata
dalam hatinya, "Malangnya mengabdi raja ini; pastilah aku akan dibunuh hari ini." Kemudian
sembahnya pada Sultan, "Dapat hamba pastikan pada Tuanku bahwa hamba tidak berhenti
sejenak pun duduk-duduk atau berdiri; bagaimanakah maka Tuanku sudah ada di sini lebih dulu
dari hamba? Percayakah Tuanku kepada hamba? Bila hamba telah berbuat lalai, bagaimana pun
hamba akui kesalahan hamba. "
"Kau bukan Mahram," kata Mahmud, "maka bagaimana mungkin kau akan dapat pergi seperti
aku? Aku datang secara gaib. Ketika aku menanyakan kabar Ayaz itu, jiwaku sudah bersama
dia."