1
Inilah ceritera si Wujil
Berkata pada guru yang diabdinya
Ratu Wahdat
Ratu Wahdat nama gurunya
Bersujud ia ditelapak kaki Syekh Agung
Yang tinggal di desa Bonang
Ia minta maaf
Ingin tahu hakikat
Dan seluk beluk ajaran agama
Ssampai rahsia terdalam
2
Sepuluh tahun lamanya
Sudah Wujil
Berguru kepada Sang Wali
Namun belum mendapat ajaran utama
Ia berasal dari Majapahit
Bekerja sebagai abdi raja
Sastra Arab telah ia pelajari
Ia menyembah di depan gurunya
Kemudian berkata
Seraya menghormat
Minta maaf
3 “
Dengan tulus saya mohon
Di telapak kaki tuan Guru
Mati hidup hamba serahkan
Sastra Arab telah tuan ajarkan
Dan saya telah menguasainya
Namun tetap saja saya bingung
Mengembara kesana-kemari
Tak berketentuan.
Dulu hamba berlakon sebagai pelawak
Bosan sudah saya
Menjadi bahan tertawaan orang
4
Ya Syekh al-Mukaram!
Uraian kesatuan huruf
Dulu dan sekarang
Yang saya pelajari tidak berbeda
Tidak beranjak dari tatanan lahir
Tetap saja tentang bentuk luarnya
Saya meninggalkan Majapahit
Meninggalkan semua yang dicintai
Namun tak menemukan sesuatu apa
Sebagai penawar
5
Diam-diam saya pergi malam-malam
Mencari rahsia Yang Satu dan jalan sempurna
Semua pendeta dan ulama hamba temui
Agar terjumpa hakikat hidup
Akhir kuasa sejati
Ujung utara selatan
Tempat matahari dan bulan terbenam
Akhir mata tertutup dan hakikat maut
Akhir ada dan tiada
6
Ratu Wahdat tersenyum lembut
“Hai Wujil sungguh lancang kau
Tuturmu tak lazim
Berani menagih imbalan tiggi
Demi pengabdianmu padaku
Tak patut aku disebut Sang Arif
Andai hanya uang yang diharapkan
Dari jerih payah mengajarkan ilmu
Jika itu yang kulakukan
Tak perlu aku menjalankan tirakat
7
Siapa mengharap imbalan uang
Demi ilmu yang ditulisnya
Ia hanya memuaskan diri sendiri
Dan berpura-pura tahu segala hal
Seperti bangau di sungai
Diam, bermenung tanpa gerak.
Pandangnya tajam, pura-pura suci
Di hadapan mangsanya ikan-ikan
Ibarat telur, dari luar kelihatan putih
Namuni isinya berwarna kuning
8
Matahari terbenam, malam tiba
Wujil menumpuk potongan kayu
Membuat perapian, memanaskan
Tempat pesujudan Sang Zahid
Di tepi pantai sunyi di Bonang
Desa itu gersang
Bahan makanan tak banyak
Hanya gelombang laut
Memukul batu karang
Dan menakutkan
9
Sang Arif berkata lembut
“Hai Wujil, kemarilah!”
Dipegangnya kucir rambut Wujil
Seraya dielus-elus
Tanda kasihsayangnya
“Wujil, dengar sekarang
Jika kau harus masuk neraka
Karena kata-kataku
Aku yang akan menggantikan tempatmu”
…
11
“Ingatlah Wujil, waspadalah!
Hidup di dunia ini
Jangan ceroboh dan gegabah
Sadarilah dirimu
Bukan yang Haqq
Dan Yang Haqq bukan dirimu
Orang yang mengenal dirinya
Akan mengenal Tuhan
Asal usul semua kejadian
Inilah jalan makrifat sejati”
12
Kebajikan utama (seorang Muslim)
Ialah mengetahui hakikat salat
Hakikat memuja dan memuji
Salat yang sebenarnya
Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib
Tetapi juga ketika tafakur
Dan salat tahajud dalam keheningan
Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa
Dan termasuk akhlaq mulia
13
Apakah salat yang sebenar-benar salat?
Renungkan ini: Jangan lakukan salat
Andai tiada tahu siapa dipuja
Bilamana kaulakukan juga
Kau seperti memanah burung
Tanpa melepas anak panah dari busurnya
Jika kaulakukan sia-sia
Karena yang dipuja wujud khayalmu semata
14
Lalu apa pula zikir yang sebenarnya?
Dengar: Walau siang malam berzikir
Jika tidak dibimbing petunjuk Tuhan
Zikirmu tidak sempurna
Zikir sejati tahu bagaimana
Datang dan perginya nafas
Di situlah Yang Ada, memperlihatkan
Hayat melalui yang empat
15
Yang empat ialah tanah atau bumi
Lalu api, udara dan air
Ketika Allah mencipta Adam
Ke dalamnya dilengkapi
Anasir ruhani yang empat:
Kahar, jalal, jamal dan kamal
Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya
Begitulah kaitan ruh dan badan
Dapat dikenal bagaimana
Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana
16
Anasir tanah melahirkan
Kedewasaan dan keremajaan
Apa dan di mana kedewasaan
Dan keremajaan? Dimana letak
Kedewasaan dalam keremajaan?
Api melahirkan kekuatan
Juga kelemahan
Namun di mana letak
Kekuatan dalam kelemahan?
Ketahuilah ini
17
Sifat udara meliputi ada dan tiada
Di dalam tiada, di mana letak ada?
Di dalam ada, di mana tempat tiada?
Air dua sifatnya: mati dan hidup
Di mana letak mati dalam hidup?
Dan letak hidup dalam mati?
Kemana hidup pergi
Ketika mati datang?
Jika kau tidak mengetahuinya
Kau akan sesat jalan
18
Pedoman hidup sejati
Ialah mengenal hakikat diri
Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk
Oleh karena itu ketahuilah
Tempat datangnya yang menyembah
Dan Yang Disembah
Pribadi besar mencari hakikat diri
Dengan tujuan ingin mengetahui
Makna sejati hidup
Dan arti keberadaannya di dunia
19
Kenalilah hidup sebenar-benar hidup
Tubuh kita sangkar tertutup
Ketahuilah burung yang ada di dalamnya
Jika kau tidak mengenalnya
Akan malang jadinya kau
Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil
Sia-sia semata
Jika kau tak mengenalnya.
Karena itu sucikan dirimu
Tinggalah dalam kesunyian
Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia
20
Keindahan, jangan di tempat jauh dicari
Ia ada dalam dirimu sendiri
Seluruh isi jagat ada di sana
Agar dunia ini terang bagi pandangmu
Jadikan sepenuh dirimu Cinta
Tumpukan pikiran, heningkan cipta
Jangan bercerai siang malam
Yang kaulihat di sekelilingmu
Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!
21
Dunia ini Wujil, luluh lantak
Disebabkan oleh keinginanmu
Kini, ketahui yang tidak mudah rusak
Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna
Di dalamnya kaujumpai Yang Abadi
Bentangan pengetahuan ini luas
Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya
Orang yang mengenal hakikat
Dapat memuja dengan benar
Selain yang mendapat petunjuk ilahi
Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini
22
Karena itu, Wujil, kenali dirimu
Kenali dirimu yang sejati
Ingkari benda
Agar nafsumu tidur terlena
Dia yang mengenal diri
Nafsunya akan terkendali
Dan terlindung dari jalan
Sesat dan kebingungan
Kenal diri, tahu kelemahan diri
Selalu awas terhadap tindak tanduknya
23
Bila kau mengenal dirimu
Kau akan mengenal Tuhanmu
Orang yang mengenal Tuhan
Bicara tidak sembarangan
Ada yang menempuh jalan panjang
Dan penuh kesukaran
Sebelum akhirnya menemukan dirinya
Dia tak pernah membiarkan dirinya
Sesat di jalan kesalahan
Jalan yang ditempuhnya benar
24
Wujud Tuhan itu nyata
Mahasuci, lihat dalam keheningan
Ia yang mengaku tahu jalan
Sering tindakannya menyimpang
Syariat agama tidak dijalankan
Kesalehan dicampakkan ke samping
Padahal orang yang mengenal Tuhan
Dapat mengendalikan hawa nafsu
Siang malam penglihatannya terang
Tidak disesatkan oleh khayalan
35
Diam dalam tafakur, Wujil
Adalah jalan utama (mengenal Tuhan)
Memuja tanpa selang waktu
Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya)
Disebabkan oleh makrifat
Tubuhnya akan bersih dari noda
Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini
Dari orang arif yang tahu
Agar kau mencapai hakikat
Yang merupakan sumber hayat
36
Wujil, jangan memuja
Jika tidak menyaksikan Yang Dipuja
Juga sia-sia orang memuja
Tanpa kehadiran Yang Dipuja
Walau Tuhan tidak di depan kita
Pandanglah adamu
Sebagai isyarat ada-Nya
Inilah makna diam dalam tafakur
Asal mula segala kejadian menjadi nyata
38
Renungi pula, Wujil!
Hakikat sejati kemauan
Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita
Berpikir dan menyebut suatu perkara
Bukan kemauan murni
Kemauan itu sukar dipahami
Seperti halnya memuja Tuhan
Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak
Pun tidak membuatmu membenci orang
Yang dihukum dan dizalimi
Serta orang yang berselisih paham
39
Orang berilmu
Beribadah tanpa kenal waktu
Seluruh gerak hidupnya
Ialah beribadah
Diamnya, bicaranya
Dan tindak tanduknya
Malahan getaran bulu roma tubuhnya
Seluruh anggota badannya
Digerakkan untuk beribadah
Inilah kemauan murni
40
Kemauan itu, Wujil!
Lebih penting dari pikiran
Untuk diungkapkan dalam kata
Dan suara sangatlah sukar
Kemauan bertindak
Merupakan ungkapan pikiran
Niat melakukan perbuatan
Adalah ungkapan perbuatan
Melakukan shalat atau berbuat kejahatan
Keduanya buah dari kemauan.
Setetes Pengetahuan
Rabu, 20 April 2011
Perdebatan antara Hudhud dan Burung-Burung
Kemudian segala burung, satu demi satu, menyatakan alasan-alasan yang tak bijak. Kalau tak kuulangi semua itu, maafkan aku, pembaca, sebab akan kelewat panjang. Tetapi bagaimana dapat burung-burung demikian berharap akan mengebat Simurgh pada cakar mereka? Maka Hudhud pun melanjutkan bicaranya: "Ia yang memilih Simurgh bagi hidupnya sendiri harus melawan dirinya sendiri dengan berani. Jika urat tembolokmu tak dapat mencerna sebutir gandum pun, bagaimana kau akan ikut serta dalam pesta sang Simurgh? Bila kau ragu-ragu dengan seteguk anggur, bagaimana kau akan minum sepiala besar, o bayangkara raja? Jika kau tak memiliki tenaga sebutir zarrah, bagaimana kau akan menemukan khazanah surya? Jika kau dapat terbenam dalam setetes air, bagaimana kau akan dapat meninggalkan dasar laut ke puncak langit? Ini bukan wangian biasa; dan bukan pula tugas bagi dia yang tak bermuka bersih."
Setelah burung-burung merenungkan pembicaraan itu, mereka pun berkata lagi pada Hudhud, "Telah kaupikul sendiri tugas menunjukkan jalan pada kami, kau yang terbaik dan terkuat di antara burung-burung. Tetapi kami lemah, tanpa bulu halus maupun lar, sehingga bagaimana kami akan dapat pada akhirnya sampai ke hadapan Simurgh Yang Mulia? Kalau kami sampai juga ke sana, tentulah suatu keajaiban. Ceritakan pada kami tentang Wujud yang menakjubkan itu dengan suatu tamsil, atau, karena sebuta ini keadaan kami, kami tak akan mengerti samasekali rahasia ini. Jika ada suatu pertalian antara Wujud ini dengan diri kami, tentulah akan jauh lebih mudah terperikan bagi kami. Tetapi, sebagaimana kita ketahui, ia mungkin dapat dibandingkan dengan Sulaiman, dan kami dengan semut-semut yang meminta-minta. Bagaimana dapat serangga di dasar sumur memanjat naik ke tempat Simurgh yang besar? Akankah kebangsawanan teruntuk bagi pengemis?"
Jawab Hudhud
Hudhud berkata, "O burung-burung yang tak bercita-cita! Bagaimana cinta akan bersemi indah di hati yang tak punya kepekaan rasa? Mengajukan pertanyaan seperti ini, yang seakan memaafkan kalian, tak akan ada gunanya. Siapa yang bercinta berangkat dengan mata terbuka ke arah tujuannya seraya membuat hidupnya sebagai barang permainan. Ketika Simurgh mengejawantahkan dirinya di luar tabir, gemilang bagai matahari, ia menimbulkan ribuan bayang-bayang di bumi. Ketika ia melemparkan pandang pada bayangbayang ini, tampaklah di sana burung-burung begitu banyaknya. Begitulah beragam jenis burung yang terlihat di dunia ini hanyalah bayang-bayang Simurgh. Maka ketahuilah, o burung-burung yang bodoh, bahwa setelah kalian mengerti akan ini, kalian pun akan mengerti pula dengan sungguh-sungguh pertalian kalian dengan Simurgh. Renungkan rahasia ini, tetapi jangan singkapkan. Ia yang memperoleh pengetahuan ini tenggelam dalam kemaharayaan Simurgh, sungguhpun ia harus tak menganggap bahwa dirinya Tuhan dalam hal itu. Bila kalian menjadi seperti yang kukatakan itu, tidaklah akan berarti bahwa kalian Tuhan, tetapi kalian akan terendam dalam Tuhan. Adakah makhluk yang terendam demikian menjadi berubah wujudnya? Bila kalian mengetahui bayang-bayang siapa kalian ini, maka hidup atau mati tak akan menjadi soal bagi kalian. Seandainya Simurgh tak hendak mengejawantahkan dirinya, tentulah ia tak akan mengembangkan bayangbayangnya; seandainya ia ingin tinggal tersembunyi, tentulah bayang-bayangnya tak akan tampak di dunia ini. Segala yang ditimbulkan oleh bayang-bayangnya menjadi tampak di mata. Jika jiwa kalian tak serasi untuk melihat Simurgh, tak akan pula hati kalian menjadi cermin yang terang, yang serasi untuk memantulkan bayang-bayangnya. Benar bahwa tiada mata yang mampu merenungi dan mengagumi keindahannya, tiada pula itu bisa dimengerti dengan pikiran: tiada yang dapat merasai Simurgh seperti ia merasai keindahan dunia ini. Tetapi dengan kemurahannya yang berlimpahan ia telah memberi kita sebuah cermin yang memantulkan bayangannya sendiri, dan cermin ini ialah hati. Tinjaulah ke dalam hati kalian, dan di sana kalian akan melihat bayangannya."
Hudhud berkata, "O burung-burung yang tak bercita-cita! Bagaimana cinta akan bersemi indah di hati yang tak punya kepekaan rasa? Mengajukan pertanyaan seperti ini, yang seakan memaafkan kalian, tak akan ada gunanya. Siapa yang bercinta berangkat dengan mata terbuka ke arah tujuannya seraya membuat hidupnya sebagai barang permainan. Ketika Simurgh mengejawantahkan dirinya di luar tabir, gemilang bagai matahari, ia menimbulkan ribuan bayang-bayang di bumi. Ketika ia melemparkan pandang pada bayangbayang ini, tampaklah di sana burung-burung begitu banyaknya. Begitulah beragam jenis burung yang terlihat di dunia ini hanyalah bayang-bayang Simurgh. Maka ketahuilah, o burung-burung yang bodoh, bahwa setelah kalian mengerti akan ini, kalian pun akan mengerti pula dengan sungguh-sungguh pertalian kalian dengan Simurgh. Renungkan rahasia ini, tetapi jangan singkapkan. Ia yang memperoleh pengetahuan ini tenggelam dalam kemaharayaan Simurgh, sungguhpun ia harus tak menganggap bahwa dirinya Tuhan dalam hal itu. Bila kalian menjadi seperti yang kukatakan itu, tidaklah akan berarti bahwa kalian Tuhan, tetapi kalian akan terendam dalam Tuhan. Adakah makhluk yang terendam demikian menjadi berubah wujudnya? Bila kalian mengetahui bayang-bayang siapa kalian ini, maka hidup atau mati tak akan menjadi soal bagi kalian. Seandainya Simurgh tak hendak mengejawantahkan dirinya, tentulah ia tak akan mengembangkan bayangbayangnya; seandainya ia ingin tinggal tersembunyi, tentulah bayang-bayangnya tak akan tampak di dunia ini. Segala yang ditimbulkan oleh bayang-bayangnya menjadi tampak di mata. Jika jiwa kalian tak serasi untuk melihat Simurgh, tak akan pula hati kalian menjadi cermin yang terang, yang serasi untuk memantulkan bayang-bayangnya. Benar bahwa tiada mata yang mampu merenungi dan mengagumi keindahannya, tiada pula itu bisa dimengerti dengan pikiran: tiada yang dapat merasai Simurgh seperti ia merasai keindahan dunia ini. Tetapi dengan kemurahannya yang berlimpahan ia telah memberi kita sebuah cermin yang memantulkan bayangannya sendiri, dan cermin ini ialah hati. Tinjaulah ke dalam hati kalian, dan di sana kalian akan melihat bayangannya."
Raja yang Mempesona
Adalah sekali seorang raja yang indah dan mempesona tiada bertara. Fajar ialah sekilat dari wajahnya, Malaikat Jibril pancaran wanginya, dan Kerajaan Keindahan ialah Quran penyimpan rahasia-rahasianya. Seluruh dunia bergema dengan kemasyhurannya, dan kasihnya terasa oleh setiap makhluk. Bila ia berkendara di kota, diselubunginya wajahnya dengan cadar merah tua; tetapi mereka yang hanya melihat cadarnya saja akan kebingungan, dan mereka yang mengucapkan namanya segera jadi kelu. Ribuan sudah yang mati karena mencintainya; yang lain-lain mengorbankan hidupnya karena yakin lebih baik segera mati ketimbang menempuh seratus kehidupan yang panjang tapi terpisah daripadanya. Sungguh mengagumkan! Mereka tak tahan berlama-lama di dekatnya, tidak pula mereka dapat hidup tanpa dia. Tetapi, bagi mereka yang tahan, ia akan memperlihatkan dirinya; mereka yang tak tahan harus puas mendengar suaranya saja. Akibatnya, raja itu memerintahkan agar dibuat sebuah cermin sehingga wajahnya bisa dilihat secara tak langsung. Cermin itu ditaruh di istananya, dan ia pun menghadap dan memandang ke dalam cermin itu, sehingga semua dapat melihat bayangannya. Begitulah pula halnya dengan kalian. Jika kalian mencintai sahabat kalian, ketahuilah bahwa hati kalian ialah cennin, pandanglah dalam cermin itu raja kalian di persemayamannya yang luhur. Segala yang tampak tak lain dari bayang-bayang Simurgh yang penuh rahasia itu. Jika ia telah menyingkapkan keindahannya pada kalian, maka kalian pun akan mengenal keindahan itu kembali pada bayang-bayangnya. Apakah ada tiga puluh burung "Simurgh" atau empat puluh, kalian hanya akan melihat bayang-bayangnya. Simurgh tak terpisah dari bayang-bayangnya; memandang yang sebaliknya tidaklah benar; yang satu dan yang lain bersama-sama ada. Carilah persatuan kembali; atau lebih jelas, tinggalkan bayang-bayang itu, maka kalian akan menemukan Kerahasiaan itu. Berkat nasib baik, kalian akan melihat sang Surya dalam bayang-bayangnya; tetapi bila kalian tersesat dalam bayang-bayang itu, bagaimana kalian akan mencapai persatuan dengan Simurgh?
Mahmud dan Ayaz
Ayaz kena ganggu pengaruh jahat, dan harus meninggalkan istana Sultan Mahmud. Dalam putus
asa ia pun jadi kehilangan semangat dan berbaring di ranjangnya, menangis. Ketika Mahmud
mendengar ini, berkatalah ia pada salah seorang abdinya, "Pergilah menemui Ayaz dan
sampaikan kata-kataku ini, 'Aku tahu bahwa kau sedih, tetapi aku juga dalam keadaan demikian.
Meskipun badanku jauh darimu, namun jiwaku dekat. O kau yang mencintaiku, aku tak
meninggalkanmu sejenak pun. Pengaruh jahat sungguh telah merugikan dengan mengganggu
orang yang begitu menawan'." Tambahnya lagi pada abdinya, "Pergilah segera, pergilah bagai
api, pergilah bagai air yang menyerbu, pergilah bagai kilat mendahului guntur! "
Si abdi pun berangkatlah bagai angin dan sebentar pun sampai ke tempat Ayaz. Tetapi
didapatinya Sultan telah ada di sana, duduk di muka hambanya. Dan gemetar si abdi pun berkata
dalam hatinya, "Malangnya mengabdi raja ini; pastilah aku akan dibunuh hari ini." Kemudian
sembahnya pada Sultan, "Dapat hamba pastikan pada Tuanku bahwa hamba tidak berhenti
sejenak pun duduk-duduk atau berdiri; bagaimanakah maka Tuanku sudah ada di sini lebih dulu
dari hamba? Percayakah Tuanku kepada hamba? Bila hamba telah berbuat lalai, bagaimana pun
hamba akui kesalahan hamba. "
"Kau bukan Mahram," kata Mahmud, "maka bagaimana mungkin kau akan dapat pergi seperti
aku? Aku datang secara gaib. Ketika aku menanyakan kabar Ayaz itu, jiwaku sudah bersama
dia."
Selasa, 22 Maret 2011
Pengejawantahan Simurgh yang Pertama
"Sungguh ajaib! Pengejawantahan Simurgh yang pertama terjadi di Cina pada tengah malam.
Sehelai bulunya jatuh di Cina dan kemasyhuran namanya pun memenuhi dunia. Setiap orang
membuat lukisan yang menggambarkan bulu ini, dan dari lukisan itu dibentuk susunan
pikirannya sendiri dan dengan demikian tergelincirlah ia dalam kekacauan. Lukisan ini masih
ada di gedung lukisan di negeri itu; maka dihadiskan, 'Carilah ilmu, walau ke Cina!'
Tetapi terhadap pengejawantahan itu tak begitu banyak ribut-ribut di dunia mengenai Wujud
yang penah rahasia ini. Tanda akan adanya itu membuktikan keagungannya. Semua jiwa
menyimpan kesan gambaran angan tentang bulunya. Karena penggambaran tentang Simurgh
tanpa kepala maupun ekor, tanpa awal maupun akhir, maka tak perlu pemerian lebih lanjut. Kini
siapa pun di antara kalian yang hendak menempuh perjalanan yang kusebutkan, siapkan diri dan
injakkan kaki di Jalan itu."
Setelah Hudhud selesai bicara, dengan bersemangat burung-burung pun mulai membicarakan
keagungan Raja itu, dan dicekam keinginan hendak menjadikan Raja itu penguasa mereka, maka
tak sabar mereka pun ingin berangkat. Mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama; masingmasing
pun menjadi kawan bagi yang lain dan menjadi lawan dirinya sendiri. Tetapi ketika
mereka mulai menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan mereka nanti, maka mereka pun
ragu-ragu, dan meskipun jelas mereka berkemauan baik, namun mereka mulai berdalih
menyatakan keberatan, masing-masing sesuai dengan wataknya.
Bulbul
Bulbul yang penuh cinta lebih dulu tampil ke muka, hampir gila karena gairah nafsunya.
Dituangkannya perasaannya dalam masing-masing dari seribu nada nyanyiannya. Dan dalam
setiap nada itu dapat ditemukan sebuah dunia penuh rahasia. Ketika ia menyanyikan rahasiarahasia
ini, sekalian burung itu pun terdiam. "Rahasia-rahasia cinta tak asing bagiku," katanya.
"Sepanjang malam berulang-ulang kunyanyikan nyanyian-nyanyian cinta. Tak adakah Daud
yang malang tempat aku dapat menyanyikan mazmur cinta penuh kerinduan? Tangis seruling
yang manis itu ialah lantaran aku, begitu pula ratap kecap; itu. Kutimbulkan kacau di antara
bunga-bunga mawar dan juga di hati para kekasih. Selalu kuajarkan rahasia-rahasia baru, dan
setiap kali kuulang nyanyian-nyanyian duka yang baru. Bila cinta menguasai jiwaku, suara
nyanyianku pun bagai laut yang mengeluh sayu. Siapa mendengar aku, akan meninggalkan akal
budinya, meskipun ia ada di antara para cendekia. Bila aku berpisah dari Mawarku tercinta, aku
pun merasa sunyi, aku tak lagi menyanyi, dan tak kututurkan pada siapa pun rahasiaku. Tak ada
yang mengetahui rahasiaku; hanya Mawar mengetahuinya dengan pasti. Begitu dalam aku
terlibat dalam cinta dengan Mawar hingga aku pun tak memikirkan hidupku sendiri; dan hanya
memikirkan Mawar dengan kelopaknya yang bagai karang bercabang-cabang itu. Perjalanan
mendapatkan Simurgh ada di luar kekuatanku; cinta dari Mawar itu cukuplah bagi Bulbul ini.
Untuk akulah dia berbunga dengan seratus kelopaknya itu; apa lagi yang mungkin kuharapkan.
Mawar yang berbunga hari ini penuh kerinduan, dan ia tersenyum ria untukku. Bila ia
memperlihatkan wajahnya di balik cadar, aku tahu bahwa itu untukku. Maka bagaimana dapat
Bulbul ini tinggal semalam saja tanpa cinta dari jelita pemesona itu?"
Hudhud
Hudhud menjawab, "O Bulbul, kau yang tak mau ikut, silau karena bentuk lahiriah dari segala
ini, berhentilah menikmati keterikatan yang begitu menyesatkan.
Cinta Mawar itu banyak
durinya; ia mengusik dan menguasai dirimu. Meskipun Mawar itu jelita, namun keindahannya
akan segera lenyap. Siapa yang mencari kesempurnaan diri janganlah menjadi budak cinta yang
begitu cepat berlalu. Jika senyum Mawar itu menimbulkan berahimu, maka itu hanya akan
mengisi hari demi harimu dan malam demi malammu dengan ratapan-ratapan kesedihan.
Tinggalkan Mawar itu dan hendaknya kau malu pada dirimu sendiri; sebab, bersama tiap Musim
Semi yang baru, ia menertawakanmu dan kemudian ia pun tak tersenyum lagi."
Hudhud Menuturkan Kisah Puteri Raja dengan Darwis
Seorang raja mempunyai seorang putri secantik bulan, yang dicintai oleh setiap orang. Nafsu
terbangkit oleh matanya yang mengantuk sayu dan bius manis kehadirannya. Wajahnya seputih
kapur barus, rambutnya hitam-kesturi. Kecemburuan bibirnya mengeringkan permata air
terindah, sedang gula pun cair di sana karena malu.
KKarena kehendak nasib seorang darwis sempat melihat putri itu sepintas, dan roti yang
dipegangnya pun jatuh dari tangannya. Putri itu melintasinya bagai nyala api, dan ketika
melintas, putri itu tertawa. Melihat ini, darwis itu jatuh di atas debu, hampir mati. Ia tak dapat
merasa tenang, baik siang maupun malam, dan ia menangis berkepanjangan. Bila teringat akan
senyum putri itu, ia mengucurkan airmata bagai awan menjatuhkan hujan. Cinta yang garang ini
berlangsung terus tujuh tahun lamanya, dan selama itu ia hidup di jalanan bersama anjing-anjing.
Akhirnya para pengiring sang putri memutuskan untuk membunuhnya. Tetapi putri itu bicara
padanya dengan diam-diam; katanya, "Mana mungkin akan ada hubungan yang mesra antara kau
dengan aku? Pergilah lekas, atau kau akan dibunuh nanti; jangan tinggal lagi di pintuku, tetapi
bangkitlah pergi."
Darwis malang itu menjawab, "Pada hari ketika hamba jatuh cinta pada Tuanku Putri, hamba
bercuci tangan dari kehidupan ini. Beribu-ribu yang seperti hamba mengorbankan diri ke
haribaan keindahan Tuan. Karena para pengiring Tuan hendak membunuh hamba secara tak adil,
maka jawablah kiranya pertanyaan yang biasa ini. Pada hari ketika Tuan menjadi sebab bagi
kematian hamba, mengapa Tuan tersenyum pada hamba?" "O kau si dungu," kata putri itu,
"ketika kuketahui bahwa kau hendak merendahkan martabat dirimu sendiri, aku tersenyum
karena kasihan. Aku sengaja tersenyum karena kasihan bukan karena hendak mencemooh."
Berkata demikian, ia pun lenyap bagai seberkas asap, meninggalkan darwis itu termangu sendiri.
Nuri
Lalu datang Nuri dengan gula di paruhnya, berpakaian hijau, dan lengkung leher baju kencana
melingkar di lehernya. Rajawali hanyalah nyamuk di sisi keindahannya yang cemerlang;
permadani bumi yang hijau ialah pantulan bulu-bulunya, dan tutur katanya ialah sari gula.
Dengarkan dia: "Begitu menawan aku ini, hingga manusia keji yang berhati besi mengurungku
10
dalam sangkar. Terikat dalam penjara ini, aku pun merindukan sumber air kebakaan yang dijaga
oleh Khizr. Seperti dia, aku pun berpakaian hijau, sebab aku ini Khizr di antara burung-burung.
Aku ingin pergi ke sumber air ini, tetapi ngengat tidak berdaya mengangkat dirinya ke sayap
Simurgh yang besar itu; mata air Khizr cukuplah bagiku."
Hudhud menjawab, "O kau yang tak punya cita-cita kebahagiaan! Siapa yang tak mau
meninggalkan hidupnya, bukanlah makhluk. Hidup diberikan padamu agar suatu ketika kau
dapat mempunyai sahabat yang mulia. Tempuhlah Jalan itu, karena kau bukan buah badam, kau
hanya kulitnya. Masuklah di kalangan mereka yang mulia dan tempuhlah Jalan mereka dengan
senang."
Si Penggila Tuhan dan Khizr
Ada seorang lelaki, gila karena cintanya pada Tuhan. Khizr bertanya padanya, "O manusia
sempurna, maukah kau jadi sahabatku?"
Orang itu menjawab, "Kau dan aku tak mungkin disatukan, karena kau telah banyak mereguk air
kebakaan sehingga kau akan senantiasa hidup, sedang aku ingin menyerahkan hidupku. Aku tak
berkawan dan bahkan bagaimana menunjang hidupku sendiri pun aku tak tahu. Sementara kau
asyik memelihara hidupmu, aku mengorbankan hidupku setiap hari. Lebih baik aku
meninggalkan kau, bagai burung menghindari jerat, jadi, selamat tinggal."
Merak
Selanjutnya datang Merak Kencana dengan bulu-bulunya yang seratus -bagaimana mesti
kuperikan?- seratus ribu warna itu! Ia memperagakan dirinya, putar-putar ke sana-sini, bagai
pengantin.
"Pelukis dunia raya ini," katanya, "mempergunakan kuas Jin di tangannya untuk membentuk
daku. Tetapi meskipun aku ini Jibril di antara burung-burung, nasibku tak layak diirikan. Aku
beramah-ramahan dengan ular di sorga dunia ini, dan lantaran itu dengan hina aku terusir.
Mereka lepas aku dari kedudukan yang dipercayakan padaku; mereka, yang mempercayai diriku
itu, dan kaki pun menjadi penjaraku. Namun aku selalu berharap agar ada penunjuk jalan yang
bermurah hati mau menuntun aku keluar dari tempat yang gelap ini dan membawaku ke rumahrumah
besar yang tinggal berdiri selamanya. Aku tak mengharapkan akan sampai ke hadapan
Raja yang kausebutkan itu, cukuplah bagiku untuk sampai ke gerbangnya. Bagaimana dapat kau
harapkan diriku akan berusaha untuk sampai ke hadapan Simurgh karena aku telah tinggal di
sorga dunia? Tak ada keinginanku yang lain kecuali tinggal di sana lagi. Tiada yang lain lagi
yang berarti bagiku."
Hudhud menjawab, "Kau tersesat dari Jalan yang benar itu. Istana Raja itu jauh lebih bagus dari
sorgamu. Tak ada yang lebih baik bagimu selain berusaha untuk sampai ke sana. Istana itu
tempat tinggal bagi jiwa, ia keabadian, ia tujuan keinginan kita yang sebenarnya, permukiman
hati, tempat duduk kebenaran. Yang Maha Luhur itu lautan maha raya; sorga rahmat duniawi
hanyalah setitik kecil; segala yang bukan lautan itu hanya sesuatu yang membingungkan. Bila
kau dapat memiliki lautan itu, mengapa kau ingin mencari setitik embun petang? Akankah ia
yang tahu akan rahasia surya iseng bermain dengan sejemput debu? Adakah ia yang mempunyai
segalanya berurusan dengan apa yang hanya merupakan sebagian saja? Adakah jiwa berurusan
dengan anggota-anggota badan? Bila kau ingin sempurna, carilah kesemestaan, pilihlah
kesemestaan, jadilah kesemestaan."
Guru dan Murid
Seorang murid bertanya pada Gurunya, "Mengapa Adam harus meninggalkan sorga?" Sang Guru
menjawab, "Ketika Adam, yang termulia dari segala makhluk, masuk sorga, didengarnya suara
yang bergema dari dunia yang tak tampak, 'O kau yang terikat pada sorga duniawi dengan
seratus ikatan, ketahuilah bahwa siapa pun di kedua dunia itu dikenal karena apa yang terjadi
antara dia dengan Aku, Kupisahkan dari segala yang ada, agar ia hanya terikat padaKu saja,
kawannya sejati.' Bagi seorang pencinta, seratus ribu kehidupan pun tiada artinya tanpa yang
11
dikasihinya. Ia yang hidup untuk sesuatu yang lain dari Dia, biar Adam sendirilah itu, telah
terusir. Para penghuni sorga tahu bahwa yang pertama mesti mereka serahkan ialah hati mereka."
Itik
Dengan takut-takut Itik pun keluar dari air lalu pergi ke persidangan itu, mengenakan jubahnya
yang terindah. "Tiadalah kiranya yang pernah menyaksikan makhluk yang lebih menarik dan
lebih suci daripadaku," katanya. "Setiap saat aku melakukan sesuci yang menjadi kelaziman itu,
lalu membentangkan tikar sembahyang di air. Burung mana dapat hidup dan bergerak di air
seperti aku? Dalam hal ini aku punya kemampuan yang mengagumkan. Di antara burung-burung
aku petobat yang berpenglihatan jernih, berpakaian bersih; dan aku hidup dalam unsur yang suci.
Tak ada yang lebih bermanfaat bagiku kecuali air, karena di sana kudapat makananku dan
kumiliki permukimanku. Bila kesusahan-kesusahan merisaukan diriku, kubasuhhilangkan
semuanya di air. Air jernih memberikan zat-zatnya pada sungai di mana aku hidup; aku tak suka
akan tanah kering. Begitulah, karena aku hanya berurusan dengan air, mengapa pula aku harus
meninggalkannya? Segala yang hidup ini hidup dari air. Bagaimana aku akan dapat melintasi
lembah-lembah dan terbang mendapatkan Simurgh? Mana mungkin macam aku ini yang puas
dengan permukaan air, merasa rindu untuk bertemu dengan Simurgh?"
Hudhud berkata, "O kau, yang menemukan kegembiraan di air yang memenuhi seluruh
hidupmu! Bermalas-malas kau mengantuk di sana --tetapi ombak datang dan kau dihanyutkan
Air hanya baik buat mereka yang bermuka jelita dan berwajah bersih. Jika kau seperti itu,
baiklah! Tetapi berapa lama kau akan tetap bersih dan suci bagai air?"
Cerita Orang yang Salih
Seseorang bertanya pada seorang aulia, "Bagaimanakah kiranya kedua dunia yang selalu
memenuhi pikiran kita itu? " Jawabnya, "Baik dunia atas maupun dunia bawah bagaikan setitik
air, yang ada dan yang tidak ada. Yaitu setitik air yang menampakkan dirinya sendiri pada
mulanya, dan kemudian mengambil beragam bentuk yang indah-indah. Segala perwujudan ini
bagaikan air. Tiada yang lebih keras daripada besi, namun besi pun tahu bahwa airlah asalnya.
Tetapi segala yang berasas pada air, biar besi pun, tak lebih nyata dari mimpi. Air sama sekali
tak tetap."
Ayam Hutan
Ayam hutan lalu mendekat, cantik tetapi sombong. Tersipu-sipu ia bangkit dari harta mutiaranya
dalam pakaian fajar itu. Dengan mata berlingkar aku mati atau menemukan batu-batu mulia itu
darah dan paruh merah ia terbang sambil sedikit menelengkan kepala, memakai ikat pinggang
dan pedangnya.
Ia berkata, "Aku suka mengelana di antara reruntuhan karena aku menyukai batu-batu mulia.
Benda-benda itu telah menyalakan api di hatiku dan ini membuat aku merasa puas. Bila aku
dibakar keinginan untuk mendapatkannya, kerikil-kerikil yang telah kutelan pun menjadilah
seakan diwarnai darah. Tetapi sering kudapati diriku di antara batu-batu dan api, tak berbuat apaapa
dan bingung. O kawan-kawanku, lihat bagaimana aku hidup! Mungkinkah membangunkan
makhluk yang tidur di atas batu-batu dan menelan kerikil?
Hatiku luka karena seratus duka, sebab cintaku akan batu-batu mulia telah menambatku ke
gunung. Cinta akan benda-benda lain bersifat fana, sedang kerajaan batu-batu permata itu kekal;
batu-batu permata itu sari dari gunung yang abadi. Dengan ikat pinggang dan pedangku aku
senantiasa mencari intan, namun aku masih harus menemukan zat yang lebih unggul sifataya dari
batu-batu mulia --bahkan mutiara pun tak seindah itu. Juga, jalan menuju Simurgh sulit, dan
kakiku terikat pada batu-batu seakan kaki itu lekat di tanah liat. Bagaimana mungkin aku
berharap akan pergi dengan berani ke hadapan Simurgh yang besar, dengan tangan di kepala,
kaki di lumpur? Biarlah Keluhuranku sudah jelas, dan ia yang tak ikut serta dalam tujuanku ini
tak perlu diperhatikan."
12
Hudhud berkata, "O kau yang mengandung warna segala batu, kau sedikit timpang dan
memberikan alasan-alasan yang timpang pula. Darah hatimu menodai cakar dan paruhmu dan
usahamu mencari itu merendahkan martabat dirimu. Apakah permata itu kalau bukan hanya
batu-batu berwarna? Namun kesukaan akan permata telah membuat hatimu mengeras beku.
Tanpa warna-warna itu permata hanya kerikil-kerikil kecil biasa; ia yang memiliki saripati tak
akan meninggalkannya demi gemerlap kulit luar semata. Carilah permata sejati yang bermutu
murni dan jangan merasa puas lagi dengan sebutir batu."
Cincin Sulaiman
Tak ada batu yang pernah setenar batu pada cincin Sulaiman, namun ini sebutir batu yang amat
bersahaja, tak lebih dari seperdelapan dinar beratnya. Tetapi ketika Sulaiman membuat cap dari
batu itu, seluruh dunia ada di bawah perintahnya. Kekuasaannya dikukuhkan dan hukamnya
meluas hingga ke ufuk jauh. Meskipun angin membawa sabda-kehendaknya ke segala penjuru,
Sulaiman hanya mempunyai sebuah batu seberat seperdelapan dinar saja. "Karena kerajaan dan
kekuasaanku tergantung pada batu ini, maka mulai sekarang tak seorang pun akan mempunyai
kekuasaan sebesar ini.
Meskipun Sulaiman menjadi raja agung karena cap batu ini, namun benda inilah pula yang
memperlambat kemajuannya di jalan ruhani; maka ia pun sampai ke Sorga Adin lima ratus tahun
lebih kemudian dari nabi-nabi lain. Jika sebuah batu dapat menimbulkan keadaan demikian pada
Sulaiman, apa pula yang mungkin ditimbulkannya pada makhluk semacam kau ini, Ayam Hutan
yang malang? Jauhkan hatimu dari permata biasa itu. Carilah permata asli dan jangan berhenti
mencari Jauhari Sejati.
Humay
Kini di muka majelis itu berdiri Humay,1 Pemberi Lindap itu, dengan bayang-bayangnya yang
melimpahkan kemuliaan pada raja-raja. Lantaran ini ia mendapat gelar "Humayun", si mujur,
karena dari segala makhluk, dialah yang paling besar gairah keinginannya. Katanya, "Burungburung
di darat dan di laut, aku bukan burung seperti kalian. Gairah keinginan yang muluk
menggerakkan diriku dan untuk memenuhi itu aku terpisah dari makhluk-makhluk lain. Telah
kujinakkan anjing nafsu, karena itu terpujilah Feridun dan Jamsyid. Raja-raja diangkat karena
pengaruh bayang-bayangku, tetapi orang-orang yang berwatak pengemis tak suka padaku.
Kuberikan tulang pada anjing nafsuku dan kupertaruhkan jiwaku sebagai jaminan terhadapnya.
Bagaimana orang dapat memalingkan muka dari diriku yang menimbulkan raja-raja dengan
bayang-bayangku. Di bawah naungan sayapku setiap orang mencari lindungan. Masihkah
kuperlukan persahabatan dengan Simurgh yang besar bila kemuliaan sudah ada padaku karena
sifat pembawaanku?"
Hudhud menjawab, "O budak kesombongan! Jangan kembangkan lagi bayang-bayangmu dan
jangan sombongkan lagi dirimu. Pada saat ini, jauh dari kekuasaan yang melimpah pada para
raja, kau seperti anjing yang sibuk dengan sekerat tulang. Tuhan melarang kau mendudukkan
keturunan Khosru di atas tahta. Tetapi andaikan pula bayang-bayangmu menempatkan para
penguasa di atas tahta mereka, esok mereka pun akan menemui kemalangan dan akan kehilangan
kemuliaan mereka selama-lamanya, sedangkan, bila saja mereka tak melihat bayang-bayangmu,
tentulah mereka tak akan menghadapi perhitungan yang begitu mengerikan di hari kemudian."
Mahmud dan Orang Alim
Seorang yang salih, yang ada di Jalan yang benar, melihat Sultan Mahmud2 dalam mimpi dan
berkata padanya, "O Raja yang bahagia, bagaimana keadaan dalam Kerajaan Baka?" Sultan
menjawab, "Pukul badanku jika kau mau, tetapi jangan ganggu jiwaku. Jangan berkata apa pun,
pergilah, karena di sini tak akan disebut-sebut tentang jabatan raja. Kekuasaanku hanya riya,
kemegahan diri, kesombongan dan kesesatan semata. Dapatkah kekuasaan mengagungkan
segenggam tanah? Kekuasaan milik Tuhan, Penguasa Alam Semesta. Kini setelah kuketahui
kelemahan dan kedaifanku, aku pun malu pada kedudukanku sebagai raja. Bila kau ingin
memberiku gelar, berilah aku gelar "si malang". Tuhan Raja Alam ini, maka jangan sebut aku
raja. Kerajaan milik Tuhan; dan aku senang kini menjadi seorang darwis biasa di dunia.
13
Semogalah Tuhan menyediakan seratus sumur untuk memurukkan diriku hingga aku tak usah
menjadi raja. Lebih baiklah sekiranya aku menjadi pemungut sisa-sisa panenan di ladang-ladang
gandum. Sebut Mahmud hamba-sahaya. Sampaikan restuku pada putraku Masud, dan katakan
padanya, 'Jika kau ingin menjadi arif, perhatikan peringatan dari ihwal bapamu.' Semoga layulah
sayap dan bulu-bulu Humay itu, yang menaungkan bayang-bayangnya padaku!"
Dalih Rajawali
Selanjutnya datang Rajawali, dengan kepala tegak dan sikap seperti prajurit. Ia pun berkata,
"Aku yang senang menyertai para raja tak mengacuhkan makhluk-makhluk lain. Kututup mataku
dengan peci agar aku dapat bertengger di tangan raja. Aku amat terlatih dalam sopan-santun dan
menjalankan pertarakan seperti petobat agar bila dibawa ke hadapan raja, aku dapat melakukan
tugas-tugasku dengan tepat seperti yang diharapkan. Mengapa pula aku harus bertemu dengan
Simurgh, meskipun dalam mimpi? Mengapa begitu saja aku harus bergegas kepadanya? Aku tak
merasa terpanggil untuk ikut serta dalam perjalanan ini, aku puas dengan sesuap dari tangan raja;
istananya cukup bagus bagiku. Ia yang bermain-main demi kesenangan raja, mendapatkan segala
keinginannya; dan agar berkenan di hati raja, aku hanya harus terbang lewat lembah-lembah
yang tak bertepi. Tak ada keinginanku yang lain kecuali melewatkan hidupku penuh
kegembiraan dengan cara begini baik dengan melayani raja maupun dengan berburu menurut
kesukaannya."
Jawab Hudhud
Hudhud berkata, "O kau yang terikat pada bentuk lahiriah semata dan tak peduli akan nilai-nilai
hakiki, Simurgh ialah makhluk yang layak dengan kedudukannya sebagai Raja, karena
kewibawaannya tiada duanya. Tiada raja sejati yang melaksanakan kehendaknya tanpa pikir.
Raja demikian patut dipercaya dan pengampun. Meskipun raja duniawi mungkin sering adil pula,
namun mungkin pula ia bersalah karena tak adil. Siapa lebih dekat padanya, lebih enak pula
kedudukannya. Yang beriman terpaksa harus menentang raja, maka hidupnya pun sering dalam
bahaya. Karena raja dapat dibandingkan dengan api, maka jauhilah! Oh, kau yang telah hidup
berdekatan dengan raja-raja, hati-hatilah! Dengarkan ini: Adalah sekali seorang raja mulia, ia
mempunyai seorang hamba yang badannya bagaikan perak. Hamba itu amat disayanginya
sehingga tak dapatlah sang raja sebentar pun berpisah daripadanya. Diberinya hamba itu
pakaian-pakaian yang terindah dan ditempatkannya di atas kawan-kawannya. Tetapi kadangkadang
raja itu menghibur diri dengan bermain panah, dan biasanya ditaruhnya sebuah apel di
atas hamba kesayangannya dan digunakannya apel itu sebagai sasaran. Dan bila raja melepaskan
anak panahnya, hamba itu pun menjadi pucat karena takut. Suatu hari seseorang berkata pada
hamba itu, "Mengapa wajahmu berwarna emas? Kau orang kesayangan raja, mengapa pucat
seperti mayat?" Jawabnya, 'Bila sang raja hampir mengenai diriku dan bukan apel itu, maka
katanya, Hamba ini hampir menjadi sesuatu yang paling tak berguna di istanaku; tetapi bila anak
panahnya mengenai sasaran, setiap orang mengatakan hal itu karena kemahirannya. Adapun aku,
dalam keadaan yang menyedihkan ini, hanya bisa berharap agar raja akan senantiasa melepaskan
anak panahnya dengan tepat'!"
Bangau
Bangau datang amat tergesa-gesa dan segera mulai bicara tentang dirinya sendiri, "Rumahku
yang jelita di dekat laut di antara danau-danau pantai, di mana tiada siapa juga mendengar
nyanyianku. Aku amat tak suka menyerang sehingga tak ada yang merasa susah karena aku.
Sedih dan murung aku berdiri merenung di tepi laut asin, hatiku penuh kerinduan akan air,
karena kalau tak ada air, apa yang akan terjadi padaku! Tetapi karena aku tidak tergolong mereka
yang bermukim di laut, aku seperti mati saja, bibirku kering, di pantainya. Meskipun air bergolak
dan ombak memecah di kakiku, aku tak dapat menelan setitik pun; namun jika lautan kehilangan
airnya biar sedikit saja pun, hatiku akan terbakar oleh keresahan. Bagi makhluk seperti aku ini,
gairahku terhadap laut cukuplah sudah. Aku tak kuat untuk pergi mencari Simurgh, maka harap
dimaafkan. Mana mungkin makhluk seperti aku ini, yang hanya mencari setitik air, dapat
mencapai persatuan dengan Simurgh?"
14
Berkata Hudhud, "O yang tak mengenal laut, tidakkah kau tahu bahwa laut penuh dengan buaya
dan makhluk-makhluk lain yang berbahaya? Kadang airnya pahit, kadang asin; kadang laut itu
tenang, kadang bergelora; senantiasa berubah, tak pernah tetap; kadang laut itu pasang, kadang
surut. Banyak makhluk besar telah tertelan binasa di tubirnya yang dalam. Penyelam di dasarnya
menahan napas agar ia tak terlempar ke atas bagai jerami. Laut ialah unsur yang sama sekali
tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisi hidupmu dengan
merendammu. Laut itu gelisah karena cintanya akan sahabatnya. Kadang ia menggulungkan
gelombang-gelombang besar, kadang ia berderau. Karena ia tak mungkin mendapatkan apa yang
diinginkannya, bagaimana kau akan menemukan di sana tempat istirahat bagi hatimu? Lautan
ialah anak sungai yang pasang di jalan menuju ke tempat sahabatnya; kalau demikian, mengapa
pula kau akan tinggal puas di sini, dan tak berusaha melihat wajah Simurgh?"
Orang Alim dan Lautan
Seorang alim yang biasa merenungkan makna segala sesuatu, pergi ke Lautan dan menanyakan
mengapa Lautan memakai pakaian biru, karena warna ini ialah warna duka, dan mengapa ia
mendidih tanpa api?
Lautan menjawab pada manusia perenung itu, "Aku risau karena terpisah dari sahabatku. Karena
kekuranganku, aku tak layak baginya; maka kukenakan pakaian biru ini sebagai tanda sesal yang
kurasa. Dalam kesedihanku, pantai-pantai bibirku kering, dan disebabkan api cintaku, aku berada
dalam gebalau ini. Kalau dapat kuperoleh setitik saja air surgawi dari Al Kausar,1 maka akan
dapat kukuasai gerbang kehidupan kekal. Tanpa setitik ini aku akan mati karena gairah damba
bersama ribuan yang lain, yang binasa dalam perjalanan."
Burung Hantu
Burung Hantu tampil ke muka dengan wajah kebingungan, dan katanya, "Telah kupilih sebagai
tempat tinggalku sebuah rumah bobrok yang sudah runtuh. Aku dilahirkan di antara reruntuhan
itu dan di sana kudapatkan kesenangan -- tetapi tidak dalam minum anggur. Aku pun tahu
beratus-ratus tempat yang ramai dihuni, tetapi sebagian ada dalam kekacauan dan yang lain
dalam permusuhan. Siapa ingin hidup dengan tenteram mesti pergi ke tempat reruntuhan, seperti
orang-orang gila. Bila aku merengut di antara mereka, ini disebabkan harta terpendam. Cinta
harta menarikku ke sana, karena harta itu terdapat di antara puing-puing runtuhan. Aku pun dapat
menyembunyikan usahaku yang penuh damba dalam mencari itu, dan berharap akan
mendapatkan harta yang tak dilindungi jejimat itu; jika nanti kakiku dapat menemukannya, maka
akan tercapailah keinginan hatiku. Aku memang percaya bahwa cinta terhadap Simurgh itu
bukan dongengan, karena cinta demikian tak dihayati oleh mereka yang tak peduli; tetapi aku ini
lemah, dan jauh dari merasa pasti akan cintanya, karena aku hanya mencintai harta dan
reruntuhan ini."
Hudhud berkata padanya, "O kau yang mabuk karena cinta akan harta, taruhlah kau dapat
menemukan harta itu! Maka tentulah kau akan mati pula di atas harta itu, sedang hidup telah
menyelinap pergi sebelum kau mencapai tujuan mulia yang setidak-tidaknya telah kausadari
pula. Cinta akan emas ialah ciri mereka yang tak beriman. Ia yang membuat berhala emas ialah
kembaran Thare.1 Bukankah kau barangkali ingin menjadi pengikut As-Samiri2 dari bangsa Israil
yang membuat anak lembu dari emas? Tidakkah kau tahu bahwa barangsiapa telah dirusakkan
akhlaknya oleh cinta akan emas, maka seperti mata uang palsu ia akan bertukar wajah dengan
yang serupa tikus, pada hari kiamat nanti?"
Si Bakhil
Seorang pemabuk menyembunyikan sepeti emas, dan segera sesudah itu, mati. Setahun
kemudian anaknya laki-laki dalam mimpi melihat si ayah menjelma jadi tikus, kedua matanya
sebak dengan airmata. Tikus itu berlari maju-mundur di tempat emas itu disembunyikan. Si anak
menanyainya, "Mengapa Bapak di sini?" Jawab si ayah, "Dulu aku menyembunyikan emas di
sini dan kini aku datang hendak melihat apakah ada orang yang telah mengetahuinya." "Mengapa
Bapak menjelma jadi tikus?" tanya si anak. Ayahnya berkata, "Jiwa orang yang telah
15
mengorbankan segalanya demi cinta akan emas menjelma serupa ini. Ingat baik-baik tentang
diriku, o anakku, dan ambil manfaat dari apa yang kaulihat ini. Tinggalkan cinta akan emas itu!"
Burung Gereja
Lalu datang Burung Gereja, berbadan lemah dan berhati lembut, gemetar, seperti nyala api, dari
kepala hingga kaki. Katanya, "Aku termenung bingung dan patah semangat. Aku tak tahu
bagaimana mesti hidup, dan aku rapuh bagai rambut. Tak ada yang akan menolong diriku dan
aku tak bertenaga sekuat semut pun. Aku tak mempunyai bulu halus maupun lar1 -sedikit pun
tidak. Bagaimana mungkin makhluk lemah seperti aku ini berusaha mendapatkan Simurgh?
Burung Gereja tak akan sanggup berbuat demikian. Tak kurang mereka di dunia ini yang
mencari persatuan itu, tetapi bagi makhluk macam aku ini, itu tak selayaknya. Aku tak ingin
memulai perjalanan sesusah itu untuk mencari sesuatu yang tak mungkin kucapai. Jika aku mesti
berangkat menuju ke istana Simurgh, aku akan binasa di jalan. Maka karena aku sama sekali tak
layak untuk berusaha ke arah itu, aku pun akan merasa puas di sini mencari Yusufku di sumur
ini. Jika aku dapat menemukannya dan menariknya ke atas, aku akan terbang membubung
bersamanya dari ikan ke bulan."
Hudhud menjawab, "O kau, yang dalam kehilangan harapan kadang bersedih dan kadang
gembira, aku tak akan terkecoh oleh alasan yang dibuat-buat ini. Kau sedikit munafik. Juga
dalam kerendahan hatimu kau memperlihatkan seratus tanda keriyaan dan kesombongan. Tak
usah bicara lagi, jahit bibirmu dan langkahkan kaki. Jika kau terbakar, kau akan terbakar
bersama yang lain-lain. Dan jangan bandingkan dirimu dengan Yusuf!"
Cerita tentang Ya'kub
Setelah Yusuf dibawa pergi, maka ayahnya, Ya'kub, kehilangan penglihatan karena airmata
darah yang mengalir dari matanya. Nama Yusuf senantiasa di bibirnya. Akhirnya Malaikat Jibril
datang padanya dan berkata, "Jika kau ucapkan lagi kata 'Yusuf,' akan kuhapus namamu dari
daftar para nabi dan utusan." Ketika Ya'kub menerima amanat dari Tuhan ini, nama Yusuf tak
pernah lagi terucap dari lidahnya, tetapi ia tak berhenti mengulang-ulangnya dalam hati. Suatu
malam dilihatnya Yusuf dalam mimpi, dan sedianya hendak dipanggilnya, tetapi ingat akan
perintah Tuhan, ia pun memukul-mukul dadanya dan mendesahkan keluhan sedih dari hatinya
yang bersih. Maka Jibril pun datang: "Tuhan berfirman bahwa meskipun kau tak mengucapkan
nama 'Yusuf' dengan lidahmu, namun kau telah mendesahkan keluhan, dan dengan begitu,
merusak segala berkat-manfaat taubatmu."
Sehelai bulunya jatuh di Cina dan kemasyhuran namanya pun memenuhi dunia. Setiap orang
membuat lukisan yang menggambarkan bulu ini, dan dari lukisan itu dibentuk susunan
pikirannya sendiri dan dengan demikian tergelincirlah ia dalam kekacauan. Lukisan ini masih
ada di gedung lukisan di negeri itu; maka dihadiskan, 'Carilah ilmu, walau ke Cina!'
Tetapi terhadap pengejawantahan itu tak begitu banyak ribut-ribut di dunia mengenai Wujud
yang penah rahasia ini. Tanda akan adanya itu membuktikan keagungannya. Semua jiwa
menyimpan kesan gambaran angan tentang bulunya. Karena penggambaran tentang Simurgh
tanpa kepala maupun ekor, tanpa awal maupun akhir, maka tak perlu pemerian lebih lanjut. Kini
siapa pun di antara kalian yang hendak menempuh perjalanan yang kusebutkan, siapkan diri dan
injakkan kaki di Jalan itu."
Setelah Hudhud selesai bicara, dengan bersemangat burung-burung pun mulai membicarakan
keagungan Raja itu, dan dicekam keinginan hendak menjadikan Raja itu penguasa mereka, maka
tak sabar mereka pun ingin berangkat. Mereka memutuskan untuk pergi bersama-sama; masingmasing
pun menjadi kawan bagi yang lain dan menjadi lawan dirinya sendiri. Tetapi ketika
mereka mulai menyadari betapa jauh dan pedihnya perjalanan mereka nanti, maka mereka pun
ragu-ragu, dan meskipun jelas mereka berkemauan baik, namun mereka mulai berdalih
menyatakan keberatan, masing-masing sesuai dengan wataknya.
Bulbul
Bulbul yang penuh cinta lebih dulu tampil ke muka, hampir gila karena gairah nafsunya.
Dituangkannya perasaannya dalam masing-masing dari seribu nada nyanyiannya. Dan dalam
setiap nada itu dapat ditemukan sebuah dunia penuh rahasia. Ketika ia menyanyikan rahasiarahasia
ini, sekalian burung itu pun terdiam. "Rahasia-rahasia cinta tak asing bagiku," katanya.
"Sepanjang malam berulang-ulang kunyanyikan nyanyian-nyanyian cinta. Tak adakah Daud
yang malang tempat aku dapat menyanyikan mazmur cinta penuh kerinduan? Tangis seruling
yang manis itu ialah lantaran aku, begitu pula ratap kecap; itu. Kutimbulkan kacau di antara
bunga-bunga mawar dan juga di hati para kekasih. Selalu kuajarkan rahasia-rahasia baru, dan
setiap kali kuulang nyanyian-nyanyian duka yang baru. Bila cinta menguasai jiwaku, suara
nyanyianku pun bagai laut yang mengeluh sayu. Siapa mendengar aku, akan meninggalkan akal
budinya, meskipun ia ada di antara para cendekia. Bila aku berpisah dari Mawarku tercinta, aku
pun merasa sunyi, aku tak lagi menyanyi, dan tak kututurkan pada siapa pun rahasiaku. Tak ada
yang mengetahui rahasiaku; hanya Mawar mengetahuinya dengan pasti. Begitu dalam aku
terlibat dalam cinta dengan Mawar hingga aku pun tak memikirkan hidupku sendiri; dan hanya
memikirkan Mawar dengan kelopaknya yang bagai karang bercabang-cabang itu. Perjalanan
mendapatkan Simurgh ada di luar kekuatanku; cinta dari Mawar itu cukuplah bagi Bulbul ini.
Untuk akulah dia berbunga dengan seratus kelopaknya itu; apa lagi yang mungkin kuharapkan.
Mawar yang berbunga hari ini penuh kerinduan, dan ia tersenyum ria untukku. Bila ia
memperlihatkan wajahnya di balik cadar, aku tahu bahwa itu untukku. Maka bagaimana dapat
Bulbul ini tinggal semalam saja tanpa cinta dari jelita pemesona itu?"
Hudhud
Hudhud menjawab, "O Bulbul, kau yang tak mau ikut, silau karena bentuk lahiriah dari segala
ini, berhentilah menikmati keterikatan yang begitu menyesatkan.
Cinta Mawar itu banyak
durinya; ia mengusik dan menguasai dirimu. Meskipun Mawar itu jelita, namun keindahannya
akan segera lenyap. Siapa yang mencari kesempurnaan diri janganlah menjadi budak cinta yang
begitu cepat berlalu. Jika senyum Mawar itu menimbulkan berahimu, maka itu hanya akan
mengisi hari demi harimu dan malam demi malammu dengan ratapan-ratapan kesedihan.
Tinggalkan Mawar itu dan hendaknya kau malu pada dirimu sendiri; sebab, bersama tiap Musim
Semi yang baru, ia menertawakanmu dan kemudian ia pun tak tersenyum lagi."
Hudhud Menuturkan Kisah Puteri Raja dengan Darwis
Seorang raja mempunyai seorang putri secantik bulan, yang dicintai oleh setiap orang. Nafsu
terbangkit oleh matanya yang mengantuk sayu dan bius manis kehadirannya. Wajahnya seputih
kapur barus, rambutnya hitam-kesturi. Kecemburuan bibirnya mengeringkan permata air
terindah, sedang gula pun cair di sana karena malu.
KKarena kehendak nasib seorang darwis sempat melihat putri itu sepintas, dan roti yang
dipegangnya pun jatuh dari tangannya. Putri itu melintasinya bagai nyala api, dan ketika
melintas, putri itu tertawa. Melihat ini, darwis itu jatuh di atas debu, hampir mati. Ia tak dapat
merasa tenang, baik siang maupun malam, dan ia menangis berkepanjangan. Bila teringat akan
senyum putri itu, ia mengucurkan airmata bagai awan menjatuhkan hujan. Cinta yang garang ini
berlangsung terus tujuh tahun lamanya, dan selama itu ia hidup di jalanan bersama anjing-anjing.
Akhirnya para pengiring sang putri memutuskan untuk membunuhnya. Tetapi putri itu bicara
padanya dengan diam-diam; katanya, "Mana mungkin akan ada hubungan yang mesra antara kau
dengan aku? Pergilah lekas, atau kau akan dibunuh nanti; jangan tinggal lagi di pintuku, tetapi
bangkitlah pergi."
Darwis malang itu menjawab, "Pada hari ketika hamba jatuh cinta pada Tuanku Putri, hamba
bercuci tangan dari kehidupan ini. Beribu-ribu yang seperti hamba mengorbankan diri ke
haribaan keindahan Tuan. Karena para pengiring Tuan hendak membunuh hamba secara tak adil,
maka jawablah kiranya pertanyaan yang biasa ini. Pada hari ketika Tuan menjadi sebab bagi
kematian hamba, mengapa Tuan tersenyum pada hamba?" "O kau si dungu," kata putri itu,
"ketika kuketahui bahwa kau hendak merendahkan martabat dirimu sendiri, aku tersenyum
karena kasihan. Aku sengaja tersenyum karena kasihan bukan karena hendak mencemooh."
Berkata demikian, ia pun lenyap bagai seberkas asap, meninggalkan darwis itu termangu sendiri.
Nuri
Lalu datang Nuri dengan gula di paruhnya, berpakaian hijau, dan lengkung leher baju kencana
melingkar di lehernya. Rajawali hanyalah nyamuk di sisi keindahannya yang cemerlang;
permadani bumi yang hijau ialah pantulan bulu-bulunya, dan tutur katanya ialah sari gula.
Dengarkan dia: "Begitu menawan aku ini, hingga manusia keji yang berhati besi mengurungku
10
dalam sangkar. Terikat dalam penjara ini, aku pun merindukan sumber air kebakaan yang dijaga
oleh Khizr. Seperti dia, aku pun berpakaian hijau, sebab aku ini Khizr di antara burung-burung.
Aku ingin pergi ke sumber air ini, tetapi ngengat tidak berdaya mengangkat dirinya ke sayap
Simurgh yang besar itu; mata air Khizr cukuplah bagiku."
Hudhud menjawab, "O kau yang tak punya cita-cita kebahagiaan! Siapa yang tak mau
meninggalkan hidupnya, bukanlah makhluk. Hidup diberikan padamu agar suatu ketika kau
dapat mempunyai sahabat yang mulia. Tempuhlah Jalan itu, karena kau bukan buah badam, kau
hanya kulitnya. Masuklah di kalangan mereka yang mulia dan tempuhlah Jalan mereka dengan
senang."
Si Penggila Tuhan dan Khizr
Ada seorang lelaki, gila karena cintanya pada Tuhan. Khizr bertanya padanya, "O manusia
sempurna, maukah kau jadi sahabatku?"
Orang itu menjawab, "Kau dan aku tak mungkin disatukan, karena kau telah banyak mereguk air
kebakaan sehingga kau akan senantiasa hidup, sedang aku ingin menyerahkan hidupku. Aku tak
berkawan dan bahkan bagaimana menunjang hidupku sendiri pun aku tak tahu. Sementara kau
asyik memelihara hidupmu, aku mengorbankan hidupku setiap hari. Lebih baik aku
meninggalkan kau, bagai burung menghindari jerat, jadi, selamat tinggal."
Merak
Selanjutnya datang Merak Kencana dengan bulu-bulunya yang seratus -bagaimana mesti
kuperikan?- seratus ribu warna itu! Ia memperagakan dirinya, putar-putar ke sana-sini, bagai
pengantin.
"Pelukis dunia raya ini," katanya, "mempergunakan kuas Jin di tangannya untuk membentuk
daku. Tetapi meskipun aku ini Jibril di antara burung-burung, nasibku tak layak diirikan. Aku
beramah-ramahan dengan ular di sorga dunia ini, dan lantaran itu dengan hina aku terusir.
Mereka lepas aku dari kedudukan yang dipercayakan padaku; mereka, yang mempercayai diriku
itu, dan kaki pun menjadi penjaraku. Namun aku selalu berharap agar ada penunjuk jalan yang
bermurah hati mau menuntun aku keluar dari tempat yang gelap ini dan membawaku ke rumahrumah
besar yang tinggal berdiri selamanya. Aku tak mengharapkan akan sampai ke hadapan
Raja yang kausebutkan itu, cukuplah bagiku untuk sampai ke gerbangnya. Bagaimana dapat kau
harapkan diriku akan berusaha untuk sampai ke hadapan Simurgh karena aku telah tinggal di
sorga dunia? Tak ada keinginanku yang lain kecuali tinggal di sana lagi. Tiada yang lain lagi
yang berarti bagiku."
Hudhud menjawab, "Kau tersesat dari Jalan yang benar itu. Istana Raja itu jauh lebih bagus dari
sorgamu. Tak ada yang lebih baik bagimu selain berusaha untuk sampai ke sana. Istana itu
tempat tinggal bagi jiwa, ia keabadian, ia tujuan keinginan kita yang sebenarnya, permukiman
hati, tempat duduk kebenaran. Yang Maha Luhur itu lautan maha raya; sorga rahmat duniawi
hanyalah setitik kecil; segala yang bukan lautan itu hanya sesuatu yang membingungkan. Bila
kau dapat memiliki lautan itu, mengapa kau ingin mencari setitik embun petang? Akankah ia
yang tahu akan rahasia surya iseng bermain dengan sejemput debu? Adakah ia yang mempunyai
segalanya berurusan dengan apa yang hanya merupakan sebagian saja? Adakah jiwa berurusan
dengan anggota-anggota badan? Bila kau ingin sempurna, carilah kesemestaan, pilihlah
kesemestaan, jadilah kesemestaan."
Guru dan Murid
Seorang murid bertanya pada Gurunya, "Mengapa Adam harus meninggalkan sorga?" Sang Guru
menjawab, "Ketika Adam, yang termulia dari segala makhluk, masuk sorga, didengarnya suara
yang bergema dari dunia yang tak tampak, 'O kau yang terikat pada sorga duniawi dengan
seratus ikatan, ketahuilah bahwa siapa pun di kedua dunia itu dikenal karena apa yang terjadi
antara dia dengan Aku, Kupisahkan dari segala yang ada, agar ia hanya terikat padaKu saja,
kawannya sejati.' Bagi seorang pencinta, seratus ribu kehidupan pun tiada artinya tanpa yang
11
dikasihinya. Ia yang hidup untuk sesuatu yang lain dari Dia, biar Adam sendirilah itu, telah
terusir. Para penghuni sorga tahu bahwa yang pertama mesti mereka serahkan ialah hati mereka."
Itik
Dengan takut-takut Itik pun keluar dari air lalu pergi ke persidangan itu, mengenakan jubahnya
yang terindah. "Tiadalah kiranya yang pernah menyaksikan makhluk yang lebih menarik dan
lebih suci daripadaku," katanya. "Setiap saat aku melakukan sesuci yang menjadi kelaziman itu,
lalu membentangkan tikar sembahyang di air. Burung mana dapat hidup dan bergerak di air
seperti aku? Dalam hal ini aku punya kemampuan yang mengagumkan. Di antara burung-burung
aku petobat yang berpenglihatan jernih, berpakaian bersih; dan aku hidup dalam unsur yang suci.
Tak ada yang lebih bermanfaat bagiku kecuali air, karena di sana kudapat makananku dan
kumiliki permukimanku. Bila kesusahan-kesusahan merisaukan diriku, kubasuhhilangkan
semuanya di air. Air jernih memberikan zat-zatnya pada sungai di mana aku hidup; aku tak suka
akan tanah kering. Begitulah, karena aku hanya berurusan dengan air, mengapa pula aku harus
meninggalkannya? Segala yang hidup ini hidup dari air. Bagaimana aku akan dapat melintasi
lembah-lembah dan terbang mendapatkan Simurgh? Mana mungkin macam aku ini yang puas
dengan permukaan air, merasa rindu untuk bertemu dengan Simurgh?"
Hudhud berkata, "O kau, yang menemukan kegembiraan di air yang memenuhi seluruh
hidupmu! Bermalas-malas kau mengantuk di sana --tetapi ombak datang dan kau dihanyutkan
Air hanya baik buat mereka yang bermuka jelita dan berwajah bersih. Jika kau seperti itu,
baiklah! Tetapi berapa lama kau akan tetap bersih dan suci bagai air?"
Cerita Orang yang Salih
Seseorang bertanya pada seorang aulia, "Bagaimanakah kiranya kedua dunia yang selalu
memenuhi pikiran kita itu? " Jawabnya, "Baik dunia atas maupun dunia bawah bagaikan setitik
air, yang ada dan yang tidak ada. Yaitu setitik air yang menampakkan dirinya sendiri pada
mulanya, dan kemudian mengambil beragam bentuk yang indah-indah. Segala perwujudan ini
bagaikan air. Tiada yang lebih keras daripada besi, namun besi pun tahu bahwa airlah asalnya.
Tetapi segala yang berasas pada air, biar besi pun, tak lebih nyata dari mimpi. Air sama sekali
tak tetap."
Ayam Hutan
Ayam hutan lalu mendekat, cantik tetapi sombong. Tersipu-sipu ia bangkit dari harta mutiaranya
dalam pakaian fajar itu. Dengan mata berlingkar aku mati atau menemukan batu-batu mulia itu
darah dan paruh merah ia terbang sambil sedikit menelengkan kepala, memakai ikat pinggang
dan pedangnya.
Ia berkata, "Aku suka mengelana di antara reruntuhan karena aku menyukai batu-batu mulia.
Benda-benda itu telah menyalakan api di hatiku dan ini membuat aku merasa puas. Bila aku
dibakar keinginan untuk mendapatkannya, kerikil-kerikil yang telah kutelan pun menjadilah
seakan diwarnai darah. Tetapi sering kudapati diriku di antara batu-batu dan api, tak berbuat apaapa
dan bingung. O kawan-kawanku, lihat bagaimana aku hidup! Mungkinkah membangunkan
makhluk yang tidur di atas batu-batu dan menelan kerikil?
Hatiku luka karena seratus duka, sebab cintaku akan batu-batu mulia telah menambatku ke
gunung. Cinta akan benda-benda lain bersifat fana, sedang kerajaan batu-batu permata itu kekal;
batu-batu permata itu sari dari gunung yang abadi. Dengan ikat pinggang dan pedangku aku
senantiasa mencari intan, namun aku masih harus menemukan zat yang lebih unggul sifataya dari
batu-batu mulia --bahkan mutiara pun tak seindah itu. Juga, jalan menuju Simurgh sulit, dan
kakiku terikat pada batu-batu seakan kaki itu lekat di tanah liat. Bagaimana mungkin aku
berharap akan pergi dengan berani ke hadapan Simurgh yang besar, dengan tangan di kepala,
kaki di lumpur? Biarlah Keluhuranku sudah jelas, dan ia yang tak ikut serta dalam tujuanku ini
tak perlu diperhatikan."
12
Hudhud berkata, "O kau yang mengandung warna segala batu, kau sedikit timpang dan
memberikan alasan-alasan yang timpang pula. Darah hatimu menodai cakar dan paruhmu dan
usahamu mencari itu merendahkan martabat dirimu. Apakah permata itu kalau bukan hanya
batu-batu berwarna? Namun kesukaan akan permata telah membuat hatimu mengeras beku.
Tanpa warna-warna itu permata hanya kerikil-kerikil kecil biasa; ia yang memiliki saripati tak
akan meninggalkannya demi gemerlap kulit luar semata. Carilah permata sejati yang bermutu
murni dan jangan merasa puas lagi dengan sebutir batu."
Cincin Sulaiman
Tak ada batu yang pernah setenar batu pada cincin Sulaiman, namun ini sebutir batu yang amat
bersahaja, tak lebih dari seperdelapan dinar beratnya. Tetapi ketika Sulaiman membuat cap dari
batu itu, seluruh dunia ada di bawah perintahnya. Kekuasaannya dikukuhkan dan hukamnya
meluas hingga ke ufuk jauh. Meskipun angin membawa sabda-kehendaknya ke segala penjuru,
Sulaiman hanya mempunyai sebuah batu seberat seperdelapan dinar saja. "Karena kerajaan dan
kekuasaanku tergantung pada batu ini, maka mulai sekarang tak seorang pun akan mempunyai
kekuasaan sebesar ini.
Meskipun Sulaiman menjadi raja agung karena cap batu ini, namun benda inilah pula yang
memperlambat kemajuannya di jalan ruhani; maka ia pun sampai ke Sorga Adin lima ratus tahun
lebih kemudian dari nabi-nabi lain. Jika sebuah batu dapat menimbulkan keadaan demikian pada
Sulaiman, apa pula yang mungkin ditimbulkannya pada makhluk semacam kau ini, Ayam Hutan
yang malang? Jauhkan hatimu dari permata biasa itu. Carilah permata asli dan jangan berhenti
mencari Jauhari Sejati.
Humay
Kini di muka majelis itu berdiri Humay,1 Pemberi Lindap itu, dengan bayang-bayangnya yang
melimpahkan kemuliaan pada raja-raja. Lantaran ini ia mendapat gelar "Humayun", si mujur,
karena dari segala makhluk, dialah yang paling besar gairah keinginannya. Katanya, "Burungburung
di darat dan di laut, aku bukan burung seperti kalian. Gairah keinginan yang muluk
menggerakkan diriku dan untuk memenuhi itu aku terpisah dari makhluk-makhluk lain. Telah
kujinakkan anjing nafsu, karena itu terpujilah Feridun dan Jamsyid. Raja-raja diangkat karena
pengaruh bayang-bayangku, tetapi orang-orang yang berwatak pengemis tak suka padaku.
Kuberikan tulang pada anjing nafsuku dan kupertaruhkan jiwaku sebagai jaminan terhadapnya.
Bagaimana orang dapat memalingkan muka dari diriku yang menimbulkan raja-raja dengan
bayang-bayangku. Di bawah naungan sayapku setiap orang mencari lindungan. Masihkah
kuperlukan persahabatan dengan Simurgh yang besar bila kemuliaan sudah ada padaku karena
sifat pembawaanku?"
Hudhud menjawab, "O budak kesombongan! Jangan kembangkan lagi bayang-bayangmu dan
jangan sombongkan lagi dirimu. Pada saat ini, jauh dari kekuasaan yang melimpah pada para
raja, kau seperti anjing yang sibuk dengan sekerat tulang. Tuhan melarang kau mendudukkan
keturunan Khosru di atas tahta. Tetapi andaikan pula bayang-bayangmu menempatkan para
penguasa di atas tahta mereka, esok mereka pun akan menemui kemalangan dan akan kehilangan
kemuliaan mereka selama-lamanya, sedangkan, bila saja mereka tak melihat bayang-bayangmu,
tentulah mereka tak akan menghadapi perhitungan yang begitu mengerikan di hari kemudian."
Mahmud dan Orang Alim
Seorang yang salih, yang ada di Jalan yang benar, melihat Sultan Mahmud2 dalam mimpi dan
berkata padanya, "O Raja yang bahagia, bagaimana keadaan dalam Kerajaan Baka?" Sultan
menjawab, "Pukul badanku jika kau mau, tetapi jangan ganggu jiwaku. Jangan berkata apa pun,
pergilah, karena di sini tak akan disebut-sebut tentang jabatan raja. Kekuasaanku hanya riya,
kemegahan diri, kesombongan dan kesesatan semata. Dapatkah kekuasaan mengagungkan
segenggam tanah? Kekuasaan milik Tuhan, Penguasa Alam Semesta. Kini setelah kuketahui
kelemahan dan kedaifanku, aku pun malu pada kedudukanku sebagai raja. Bila kau ingin
memberiku gelar, berilah aku gelar "si malang". Tuhan Raja Alam ini, maka jangan sebut aku
raja. Kerajaan milik Tuhan; dan aku senang kini menjadi seorang darwis biasa di dunia.
13
Semogalah Tuhan menyediakan seratus sumur untuk memurukkan diriku hingga aku tak usah
menjadi raja. Lebih baiklah sekiranya aku menjadi pemungut sisa-sisa panenan di ladang-ladang
gandum. Sebut Mahmud hamba-sahaya. Sampaikan restuku pada putraku Masud, dan katakan
padanya, 'Jika kau ingin menjadi arif, perhatikan peringatan dari ihwal bapamu.' Semoga layulah
sayap dan bulu-bulu Humay itu, yang menaungkan bayang-bayangnya padaku!"
Dalih Rajawali
Selanjutnya datang Rajawali, dengan kepala tegak dan sikap seperti prajurit. Ia pun berkata,
"Aku yang senang menyertai para raja tak mengacuhkan makhluk-makhluk lain. Kututup mataku
dengan peci agar aku dapat bertengger di tangan raja. Aku amat terlatih dalam sopan-santun dan
menjalankan pertarakan seperti petobat agar bila dibawa ke hadapan raja, aku dapat melakukan
tugas-tugasku dengan tepat seperti yang diharapkan. Mengapa pula aku harus bertemu dengan
Simurgh, meskipun dalam mimpi? Mengapa begitu saja aku harus bergegas kepadanya? Aku tak
merasa terpanggil untuk ikut serta dalam perjalanan ini, aku puas dengan sesuap dari tangan raja;
istananya cukup bagus bagiku. Ia yang bermain-main demi kesenangan raja, mendapatkan segala
keinginannya; dan agar berkenan di hati raja, aku hanya harus terbang lewat lembah-lembah
yang tak bertepi. Tak ada keinginanku yang lain kecuali melewatkan hidupku penuh
kegembiraan dengan cara begini baik dengan melayani raja maupun dengan berburu menurut
kesukaannya."
Jawab Hudhud
Hudhud berkata, "O kau yang terikat pada bentuk lahiriah semata dan tak peduli akan nilai-nilai
hakiki, Simurgh ialah makhluk yang layak dengan kedudukannya sebagai Raja, karena
kewibawaannya tiada duanya. Tiada raja sejati yang melaksanakan kehendaknya tanpa pikir.
Raja demikian patut dipercaya dan pengampun. Meskipun raja duniawi mungkin sering adil pula,
namun mungkin pula ia bersalah karena tak adil. Siapa lebih dekat padanya, lebih enak pula
kedudukannya. Yang beriman terpaksa harus menentang raja, maka hidupnya pun sering dalam
bahaya. Karena raja dapat dibandingkan dengan api, maka jauhilah! Oh, kau yang telah hidup
berdekatan dengan raja-raja, hati-hatilah! Dengarkan ini: Adalah sekali seorang raja mulia, ia
mempunyai seorang hamba yang badannya bagaikan perak. Hamba itu amat disayanginya
sehingga tak dapatlah sang raja sebentar pun berpisah daripadanya. Diberinya hamba itu
pakaian-pakaian yang terindah dan ditempatkannya di atas kawan-kawannya. Tetapi kadangkadang
raja itu menghibur diri dengan bermain panah, dan biasanya ditaruhnya sebuah apel di
atas hamba kesayangannya dan digunakannya apel itu sebagai sasaran. Dan bila raja melepaskan
anak panahnya, hamba itu pun menjadi pucat karena takut. Suatu hari seseorang berkata pada
hamba itu, "Mengapa wajahmu berwarna emas? Kau orang kesayangan raja, mengapa pucat
seperti mayat?" Jawabnya, 'Bila sang raja hampir mengenai diriku dan bukan apel itu, maka
katanya, Hamba ini hampir menjadi sesuatu yang paling tak berguna di istanaku; tetapi bila anak
panahnya mengenai sasaran, setiap orang mengatakan hal itu karena kemahirannya. Adapun aku,
dalam keadaan yang menyedihkan ini, hanya bisa berharap agar raja akan senantiasa melepaskan
anak panahnya dengan tepat'!"
Bangau
Bangau datang amat tergesa-gesa dan segera mulai bicara tentang dirinya sendiri, "Rumahku
yang jelita di dekat laut di antara danau-danau pantai, di mana tiada siapa juga mendengar
nyanyianku. Aku amat tak suka menyerang sehingga tak ada yang merasa susah karena aku.
Sedih dan murung aku berdiri merenung di tepi laut asin, hatiku penuh kerinduan akan air,
karena kalau tak ada air, apa yang akan terjadi padaku! Tetapi karena aku tidak tergolong mereka
yang bermukim di laut, aku seperti mati saja, bibirku kering, di pantainya. Meskipun air bergolak
dan ombak memecah di kakiku, aku tak dapat menelan setitik pun; namun jika lautan kehilangan
airnya biar sedikit saja pun, hatiku akan terbakar oleh keresahan. Bagi makhluk seperti aku ini,
gairahku terhadap laut cukuplah sudah. Aku tak kuat untuk pergi mencari Simurgh, maka harap
dimaafkan. Mana mungkin makhluk seperti aku ini, yang hanya mencari setitik air, dapat
mencapai persatuan dengan Simurgh?"
14
Berkata Hudhud, "O yang tak mengenal laut, tidakkah kau tahu bahwa laut penuh dengan buaya
dan makhluk-makhluk lain yang berbahaya? Kadang airnya pahit, kadang asin; kadang laut itu
tenang, kadang bergelora; senantiasa berubah, tak pernah tetap; kadang laut itu pasang, kadang
surut. Banyak makhluk besar telah tertelan binasa di tubirnya yang dalam. Penyelam di dasarnya
menahan napas agar ia tak terlempar ke atas bagai jerami. Laut ialah unsur yang sama sekali
tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisi hidupmu dengan
merendammu. Laut itu gelisah karena cintanya akan sahabatnya. Kadang ia menggulungkan
gelombang-gelombang besar, kadang ia berderau. Karena ia tak mungkin mendapatkan apa yang
diinginkannya, bagaimana kau akan menemukan di sana tempat istirahat bagi hatimu? Lautan
ialah anak sungai yang pasang di jalan menuju ke tempat sahabatnya; kalau demikian, mengapa
pula kau akan tinggal puas di sini, dan tak berusaha melihat wajah Simurgh?"
Orang Alim dan Lautan
Seorang alim yang biasa merenungkan makna segala sesuatu, pergi ke Lautan dan menanyakan
mengapa Lautan memakai pakaian biru, karena warna ini ialah warna duka, dan mengapa ia
mendidih tanpa api?
Lautan menjawab pada manusia perenung itu, "Aku risau karena terpisah dari sahabatku. Karena
kekuranganku, aku tak layak baginya; maka kukenakan pakaian biru ini sebagai tanda sesal yang
kurasa. Dalam kesedihanku, pantai-pantai bibirku kering, dan disebabkan api cintaku, aku berada
dalam gebalau ini. Kalau dapat kuperoleh setitik saja air surgawi dari Al Kausar,1 maka akan
dapat kukuasai gerbang kehidupan kekal. Tanpa setitik ini aku akan mati karena gairah damba
bersama ribuan yang lain, yang binasa dalam perjalanan."
Burung Hantu
Burung Hantu tampil ke muka dengan wajah kebingungan, dan katanya, "Telah kupilih sebagai
tempat tinggalku sebuah rumah bobrok yang sudah runtuh. Aku dilahirkan di antara reruntuhan
itu dan di sana kudapatkan kesenangan -- tetapi tidak dalam minum anggur. Aku pun tahu
beratus-ratus tempat yang ramai dihuni, tetapi sebagian ada dalam kekacauan dan yang lain
dalam permusuhan. Siapa ingin hidup dengan tenteram mesti pergi ke tempat reruntuhan, seperti
orang-orang gila. Bila aku merengut di antara mereka, ini disebabkan harta terpendam. Cinta
harta menarikku ke sana, karena harta itu terdapat di antara puing-puing runtuhan. Aku pun dapat
menyembunyikan usahaku yang penuh damba dalam mencari itu, dan berharap akan
mendapatkan harta yang tak dilindungi jejimat itu; jika nanti kakiku dapat menemukannya, maka
akan tercapailah keinginan hatiku. Aku memang percaya bahwa cinta terhadap Simurgh itu
bukan dongengan, karena cinta demikian tak dihayati oleh mereka yang tak peduli; tetapi aku ini
lemah, dan jauh dari merasa pasti akan cintanya, karena aku hanya mencintai harta dan
reruntuhan ini."
Hudhud berkata padanya, "O kau yang mabuk karena cinta akan harta, taruhlah kau dapat
menemukan harta itu! Maka tentulah kau akan mati pula di atas harta itu, sedang hidup telah
menyelinap pergi sebelum kau mencapai tujuan mulia yang setidak-tidaknya telah kausadari
pula. Cinta akan emas ialah ciri mereka yang tak beriman. Ia yang membuat berhala emas ialah
kembaran Thare.1 Bukankah kau barangkali ingin menjadi pengikut As-Samiri2 dari bangsa Israil
yang membuat anak lembu dari emas? Tidakkah kau tahu bahwa barangsiapa telah dirusakkan
akhlaknya oleh cinta akan emas, maka seperti mata uang palsu ia akan bertukar wajah dengan
yang serupa tikus, pada hari kiamat nanti?"
Si Bakhil
Seorang pemabuk menyembunyikan sepeti emas, dan segera sesudah itu, mati. Setahun
kemudian anaknya laki-laki dalam mimpi melihat si ayah menjelma jadi tikus, kedua matanya
sebak dengan airmata. Tikus itu berlari maju-mundur di tempat emas itu disembunyikan. Si anak
menanyainya, "Mengapa Bapak di sini?" Jawab si ayah, "Dulu aku menyembunyikan emas di
sini dan kini aku datang hendak melihat apakah ada orang yang telah mengetahuinya." "Mengapa
Bapak menjelma jadi tikus?" tanya si anak. Ayahnya berkata, "Jiwa orang yang telah
15
mengorbankan segalanya demi cinta akan emas menjelma serupa ini. Ingat baik-baik tentang
diriku, o anakku, dan ambil manfaat dari apa yang kaulihat ini. Tinggalkan cinta akan emas itu!"
Burung Gereja
Lalu datang Burung Gereja, berbadan lemah dan berhati lembut, gemetar, seperti nyala api, dari
kepala hingga kaki. Katanya, "Aku termenung bingung dan patah semangat. Aku tak tahu
bagaimana mesti hidup, dan aku rapuh bagai rambut. Tak ada yang akan menolong diriku dan
aku tak bertenaga sekuat semut pun. Aku tak mempunyai bulu halus maupun lar1 -sedikit pun
tidak. Bagaimana mungkin makhluk lemah seperti aku ini berusaha mendapatkan Simurgh?
Burung Gereja tak akan sanggup berbuat demikian. Tak kurang mereka di dunia ini yang
mencari persatuan itu, tetapi bagi makhluk macam aku ini, itu tak selayaknya. Aku tak ingin
memulai perjalanan sesusah itu untuk mencari sesuatu yang tak mungkin kucapai. Jika aku mesti
berangkat menuju ke istana Simurgh, aku akan binasa di jalan. Maka karena aku sama sekali tak
layak untuk berusaha ke arah itu, aku pun akan merasa puas di sini mencari Yusufku di sumur
ini. Jika aku dapat menemukannya dan menariknya ke atas, aku akan terbang membubung
bersamanya dari ikan ke bulan."
Hudhud menjawab, "O kau, yang dalam kehilangan harapan kadang bersedih dan kadang
gembira, aku tak akan terkecoh oleh alasan yang dibuat-buat ini. Kau sedikit munafik. Juga
dalam kerendahan hatimu kau memperlihatkan seratus tanda keriyaan dan kesombongan. Tak
usah bicara lagi, jahit bibirmu dan langkahkan kaki. Jika kau terbakar, kau akan terbakar
bersama yang lain-lain. Dan jangan bandingkan dirimu dengan Yusuf!"
Cerita tentang Ya'kub
Setelah Yusuf dibawa pergi, maka ayahnya, Ya'kub, kehilangan penglihatan karena airmata
darah yang mengalir dari matanya. Nama Yusuf senantiasa di bibirnya. Akhirnya Malaikat Jibril
datang padanya dan berkata, "Jika kau ucapkan lagi kata 'Yusuf,' akan kuhapus namamu dari
daftar para nabi dan utusan." Ketika Ya'kub menerima amanat dari Tuhan ini, nama Yusuf tak
pernah lagi terucap dari lidahnya, tetapi ia tak berhenti mengulang-ulangnya dalam hati. Suatu
malam dilihatnya Yusuf dalam mimpi, dan sedianya hendak dipanggilnya, tetapi ingat akan
perintah Tuhan, ia pun memukul-mukul dadanya dan mendesahkan keluhan sedih dari hatinya
yang bersih. Maka Jibril pun datang: "Tuhan berfirman bahwa meskipun kau tak mengucapkan
nama 'Yusuf' dengan lidahmu, namun kau telah mendesahkan keluhan, dan dengan begitu,
merusak segala berkat-manfaat taubatmu."
Musyawarah Dibuka
SEGALA burung di dunia, yang dikenal dan tak dikenal, datang berkumpul. Mereka berkata, "Tiada negeri di dunia ini yang tak beraja. Maka bagaimana mungkin kerajaan burung-burung tanpa penguasa! Keadaan demikian tak bisa dibiarkan terus. Kita mesti berusaha bersama-sama untuk mencarinya; karena tiada negeri yang mungkin memiliki tata usaha yang baik dan tata susunan yang baik tanpa raja."
Maka mereka mulai memikirkan bagaimana hendak mencarinya. Burung Hudhud, dengan bersemangat dan penuh harapan, tampil ke muka lalu menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah mengikuti tarikat pengetahuan ruhani; jambul di kepalanya sebagai mahkota kebenaran, dan dia memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk. "Burung-burung yang terhormat," dia mulai, "akulah yang bergiat dalam perjuangan suci, dan aku utusan dari dunia yang tak terlihat di mata. Aku memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan rahasia-rahasia ciptaan. Bila ada yang --seperti aku-- membawa nama Tuhan, Bismillah, di paruhnya, itu berarti bahwa dia pasti memiliki pengetahuan tentang banyak hal yang tersembunyi. Namun hari-hariku berlalu dengan resah dan aku tak berurusan dengan siapa pun, karena aku sama sekali dikuasai oleh cinta pada Raja. Aku dapat mencari sumber air dengan naluriku, dan banyak rahasia lain yang kuketahui. Aku bicara dengan Sulaiman dan aku yang paling penting di antara para pengikutnya. Mengherankan bahwa ia tak menanyakan ataupun mencari mereka yang tak hadir dalam kerajaannya, namun bila aku pergi sehari saja, disebarnya utusan di mana-mana, dan karena ia tak mungkin tanpa aku sebentar maka nilai kepentinganku telah mantaplah selamanya. Aku membawa surat-suratnya, aku pengiringnya yang terpercaya. Burung yang diinginkan Nabi Sulaiman patut mendapat mahkota di kepalanya. Burung yang dikatakan baik oleh Tuhan, mana mungkin menyeret bulu-bulunya dalam debu? Bertahun-tahun aku telah mengelana di laut dan di darat, lewat di atas gunung-gunung dan lembah-lembah. Kucakup ruangan maha luas di masa banjir besar; aku menyertai Sulaiman dalam perjalananperjalanannya, dan aku telah mengukur batas-batas dunia. Kukenal baik Rajaku, tetapi sendiri saja tak dapat aku pergi mencarinya. Tinggalkan keseganan kalian, kesombongan kalian dan keingkaran kalian, karena siapa yang tak mementingkan hidupnya sendiri terbebas dari ikatan dirinya sendiri; ia terbebas dari ikatan baik dan buruk demi yang dicintainya. Bermurah hatilah dengan hidup kalian. Jejakkan kaki kalian di tanah dan melangkahlah ke istana Raja. Kita mempunyai Raja sejati, ia tinggal di balik gunung-gunung
Kaf. Namanya Simurgh dan ia raja segala burung. Ia dekat dengan kita, tetapi kita jauh darinya. Tempat persemayamannya tak dapat dicapai, dan tiada lidah yang dapat mengucapkan namanya. Di mukanya tergantung seratus ribu tabir cahaya dan kegelapan, dan dalam kedua dunia itu tak ada yang dapat menyangsikan kerajaannya. Ia Raja yang berdaulat raya dan bermandikan kesempurnaan dari keagungannya. Ia tak membukakan diri sepenuhnya meskipun di tempat persemayamannya sendiri, dan tentang ini tak ada pengetahuan atau kecerdasan yang dapat meraihnya. Jalan itu tak dikenal, dan tak ada yang berteguh hati mencarinya, meskipun ribuan makhluk melewatkan hidupnya dalam kerinduan. Bahkan jiwa yang paling suci pun tak dapat melukiskannya, dan akal budi tak pula dapat memahami: kedua belah mata ini pun buta. Si bijak tak dapat mengetahui kesempurnaannya dan si arif tak pula dapat mengamati keindahannya. Sekalian makhluk memang ingin meraih kesempurnaan dan keindahan itu dengan bayangan angan. Tetapi betapa dapat kalian menempuh jalan itu dengan pikiran? Bagaimana mengukur bulan dari ikan? Begitulah, ribuan kepala pun bergerak ke sana ke mari, dan hanya ratap dan keluh kerinduan saja yang terdengar. Banyak laut dan daratan di tengah jalan. Jangan kira perjalanan itu singkat; dan kita mesti berhati singa untuk menempuh jalan yang luar biasa itu, karena jalan itu amat panjang dan laut itu dalam. Ada yang berjalan dengan susah payah dan keheranan, sambil kadang-kadang tersenyum dan kadang-kadang menangis. Adapun bagiku, aku akan merasa bahagia menemukan biar hanya jejaknya saja. Itu akan ada juga artinya, tetapi hidup tanpa dia tentulah akan menjadi sesalan. Janganlah kita menutup jiwa kita terhadap yang kita kasihi, tetapi hendaklah kita ada dalam keadaan yang serasi untuk menuntun jiwa kita ke istana Raja kita itu. Cucilah tangan kalian dari kehidupan ini bila kalian ingin disebut pengamal. Demi yang kalian kasihi, tinggalkan kehidupan kalian yang berharga ini, sebagai muliawan. Bila kalian menyerahkan diri dengan manis, sang kekasih pun akan memberikan seluruh hidupnya pada kalian."
BURUNG-BURUNG BERKUMPUL
SELAMAT DATANG, O Hudhud! Kau yang menjadi penunjuk jalan Raja Sulaiman dan menjadi utusan sejati dari lembah, yang beruntung dapat pergi hingga ke batas-batas Kerajaan Saba. Tutur siulmu dengan Sulaiman menyenangkan; sebagai kawan baginya, kau pun mendapat mahkota kehormatan. Kau harus membelenggu setan, si penggoda itu, dan sesudah demikian, kau akan dapat masuk ke istana Sulaiman.
Selamat datang, o, Nuri! Kau yang berjubah indah dan mengenakan lengkung leher baju dari api, lengkung leher baju ini patut bagi penghuni neraka, tetapi jubahmu layak bagi sorga. Dapatkah Ibrahim menyelamatkan diri dari api Nimrod? Pecahkan kepala Nimrod dan jadilah sahabat Ibrahim yang menjadi sahabat Tuhan. Setelah kau dibebaskan dari tangan Nimrod, kenakan jubah kehormatanmu dan tak usah kau takut akan lengkung leher baju dari api itu.
Salam, o Elang Mulia! Kau dengan pandangmu yang tajam mencucuk, berapa lama kau akan tetap begitu garang dan bernafsu? Eratkan genggam cakarmu pada surat cinta abadi, tetapi jangan rusakkan capnya sampai akhir nanti. Padukan semangatmu dengan akal budi dan pandanglah keabadian yang kemudian dan yang sebelumnya itu satu. Patahkan rangkamu yang buruk dan mantapkan dirimu di gua wahadiyat, maka Muhammad pun akan datang padamu.
Salam, o Pikau ! Ketika dalam jiwamu kau mendengar perjanjian cinta ilahiat, jasad nafsumu menjawab dengan gusar dan tak senang. Pergunakanlah jasad nafsumu seperti keledai Nabi Isa, dan kemudian, seperti Al-Masih, bakar dirimu dengan cinta pada Al-Khalik. Bakar keledai ini dan ambil burung cinta, agar Ruh Tuhan hendaknya datang padamu dengan gembira.
Salam, o Bulbul dari Taman Cinta! Perdengarkan nyanyi ratapmu yang timbul karena luka dan kepedihan cinta. Merataplah dengan manis, seperti Daud. Bukalah tenggorokanmu yang merdu dan nyanyilah tentang keruhanian. Dengan nyanyianmu tunjukkan insan jalan yang benar. Jadikan besi hatimu selembut lilin, maka kau pun akan serupa Daud, mesra dalam mencintai Tuhan.
Salam, o Merak dari Taman Berpintu Delapan! Kau telah menderita lantaran ular berkepala tujuh itu; karena dialah kau terusir dari Sorga. Jika kau membebaskan dirimu dari ular yang menjijikkan ini, Adam akan membawamu ke Sorga.
Selamat, o, Tekukur yang mengadah lembut! Kau pergi dengan senang dan kembali dengan hati pilu ke penjara yang sesempit penjara Yunus. O, kau yang mengedar ke sana-sini bagai ikan, dapatkah kau tinggal merindu dendam? Potong kepala ikan ini agar dapat bermegah diri di puncak bulan.
Salam, o Merpati! Dendangkanlah nyanyianmu agar aku dapat menaburkan di seputarmu tujuh pinggan mutiara. Karena lengkung leher baju keimanan melingkar di lehermu, tak layak bagimu jika tak beriman. Bila kau menempuh jalan keinsafan, Khizr pun akan membawakan kau air hayat.
Selamat datang, Rajawali! Kau telah terbang, dan setelah mendurhaka terhadap tuanmu, kau pun menundukkan kepala! Baik-baiklah kau membawa diri. Kau terikat pada tubuh dunia ini, dan karena itu, jauh dari yang lain. Bila kau terbebas dari semesta dunia, kini dan nanti, kau akan ada di tangan Iskandar.
Selamat datang, Pingki Kencana!4 Datanglah dengan gembira. Jadilah bergairah untuk bertindak, dan datanglah bagai api. Bila kau telah membakar habis keterikatanmu, nur Ilahi akan semakin jelas. Karena hatimu mengenal kerahasiaan Tuhan tetaplah beriman. Bila kau telah mencapai kesempurnaan diri, kau tak akan ada lagi. Hanya Tuhan yang senantiasa ada.
O, si Goyang Ekor, kau yang seperti Musa! Angkat kepalamu dan kumandangkan serulingmu mengagungkan pengetahuan yang benar tentang Tuhan. Seperti Musa, kau pun telah melihat api itu dari jauh, kau benar-benar Musa kecil di bukit Tursina. Pembicaraanku tanpa kata, tanpa lidah, tanpa suara; maka pahamilah pula tanpa pikiran, tanpa telinga.
Selamat datang, o, Nuri! Kau yang berjubah indah dan mengenakan lengkung leher baju dari api, lengkung leher baju ini patut bagi penghuni neraka, tetapi jubahmu layak bagi sorga. Dapatkah Ibrahim menyelamatkan diri dari api Nimrod? Pecahkan kepala Nimrod dan jadilah sahabat Ibrahim yang menjadi sahabat Tuhan. Setelah kau dibebaskan dari tangan Nimrod, kenakan jubah kehormatanmu dan tak usah kau takut akan lengkung leher baju dari api itu.
Selamat datang, o, Ayam Hutan! Kau yang berjalan begitu anggun, dan merasa puas bila terbang di atas gunung-gunung pengetahuan ilahiat. Bangkitlah dengan gembira dan pikirkan manfaat Jalan itu. Ketoklah dengan martil pintu rumah Tuhan; dan dengan rendah hati luluhkanlah gunung nafsumu yang tegar agar unta itu dapat keluar.
Salam, o Elang Mulia! Kau dengan pandangmu yang tajam mencucuk, berapa lama kau akan tetap begitu garang dan bernafsu? Eratkan genggam cakarmu pada surat cinta abadi, tetapi jangan rusakkan capnya sampai akhir nanti. Padukan semangatmu dengan akal budi dan pandanglah keabadian yang kemudian dan yang sebelumnya itu satu. Patahkan rangkamu yang buruk dan mantapkan dirimu di gua wahadiyat, maka Muhammad pun akan datang padamu.
Salam, o Pikau ! Ketika dalam jiwamu kau mendengar perjanjian cinta ilahiat, jasad nafsumu menjawab dengan gusar dan tak senang. Pergunakanlah jasad nafsumu seperti keledai Nabi Isa, dan kemudian, seperti Al-Masih, bakar dirimu dengan cinta pada Al-Khalik. Bakar keledai ini dan ambil burung cinta, agar Ruh Tuhan hendaknya datang padamu dengan gembira.
Salam, o Bulbul dari Taman Cinta! Perdengarkan nyanyi ratapmu yang timbul karena luka dan kepedihan cinta. Merataplah dengan manis, seperti Daud. Bukalah tenggorokanmu yang merdu dan nyanyilah tentang keruhanian. Dengan nyanyianmu tunjukkan insan jalan yang benar. Jadikan besi hatimu selembut lilin, maka kau pun akan serupa Daud, mesra dalam mencintai Tuhan.
Salam, o Merak dari Taman Berpintu Delapan! Kau telah menderita lantaran ular berkepala tujuh itu; karena dialah kau terusir dari Sorga. Jika kau membebaskan dirimu dari ular yang menjijikkan ini, Adam akan membawamu ke Sorga.
Salam, o Kuau Utama! Kau melihat apa yang jauh sayup, dan kau pun melihat mata-air nurani yang tercelup di lautan cahaya, sementara kau tinggal di sumur kegelapan dan penjara ketakpastian. Keluarlah kau dari sumur itu dan angkat kepalamu menengadah ke arasy Ilahi.
Selamat, o, Tekukur yang mengadah lembut! Kau pergi dengan senang dan kembali dengan hati pilu ke penjara yang sesempit penjara Yunus. O, kau yang mengedar ke sana-sini bagai ikan, dapatkah kau tinggal merindu dendam? Potong kepala ikan ini agar dapat bermegah diri di puncak bulan.
Salam, o Merpati! Dendangkanlah nyanyianmu agar aku dapat menaburkan di seputarmu tujuh pinggan mutiara. Karena lengkung leher baju keimanan melingkar di lehermu, tak layak bagimu jika tak beriman. Bila kau menempuh jalan keinsafan, Khizr pun akan membawakan kau air hayat.
Selamat datang, Rajawali! Kau telah terbang, dan setelah mendurhaka terhadap tuanmu, kau pun menundukkan kepala! Baik-baiklah kau membawa diri. Kau terikat pada tubuh dunia ini, dan karena itu, jauh dari yang lain. Bila kau terbebas dari semesta dunia, kini dan nanti, kau akan ada di tangan Iskandar.
Langganan:
Postingan (Atom)